![]() |
| Ilustrasi ombak. Foto: Jalajahnusae |
Setelah lulus kuliah, saya dapat satu tunggangan. Motor Sport. Kawasaki Ninja. Kunamai Juleha, karena bodinya yang aduhai menggoda. Itu hadiah termahal dalam sejarah perkadoan hidup saya. Sama bahagianya seperti dapat layang-layang melintang di atap rumah tetangga.
Waktu masih baru-barunya, gagah sekali itu motor. Saya jadi over protektif dan posesif. Sa jaga bae-bae seperti orang pu jodo. Ada yang dingku, pica. Rahang patah badarah.
Istilah inreyen (Belanda:inrijden) dipake untuk motor baru yang masih dalam masa adaptasi. Tidak boleh dipake baku bonceng dulu. Di hari ketujuh masa inreyen-nya saya langsung geber touring ke Wanci, via Lasalimu. Seorang diri.
![]() |
| Julehaku yang seksi |
Tiba di Lasalimu pantai saya naik bodi (perahu agak besar). Belum ada kapal Feri waktu itu. Hari yang nahas. Juleha harus diikat di haluan. Baru itu ABK kasarnya mengikat. Luka gores dan lecet tidak bisa saya elak. Seperti da tagores juga dengan hatiku sa liat. Tapi mau diapa. Kalau tidak begitu rawan jatuh ke laut nantinya. Saya pasrah.
Penumpang kapal lumayan banyak. Ada nelayan, penjual sayur, nene-nene, bapa-bapa dll. Karena takut mabo, saya pilih naik di geladak atas. Cuaca di pelabuhan waktu itu berawan. Tidak terlalu mendung, tidak terlalu panas. Teduh. Enaknya saya tiduran sendiri. Ditiup angin satu poi dua poi. Seperti di Hawai saya rasa. Padahal tidak pernah pi di Hawai. Hehehehe.
Di tengah perjalanan saya terbangun. Hujan rintik-rintik turun. Dua orang ABK sudah sibuk kasih turun layar. Angin tambah kencang. Di bawah, ombak sudah datang bergulung-gulung. Tertampar-tampar badan kapal. Sedangkan di langit sudah hitam. Tadinya teduh dan cerah-cerah biasa saja, sekarang tambah mencekam.
Macam di studio foto, kapal berlayar dipayungi langit hitam. Petir dengan guntur sudah teriak baku panggil-panggil. Ombak yang tadi masih ada iramanya, sekarang sudah kocar dan amburadul datang dari segala penjuru mata angin. Berkecamuk. Meronta. Marah-marah kayak istri temukan chat pelakor di hape suaminya.
Saya membatin, "betulan kah ini?" Baru ini kapal saya liat kayu-kayunya mo lapuk semua. Di depan mata, badai menunggu. Perasaanku seketika digelayuti ke"katere"an (baca: penakut). Saya cuma pura-pura memberanikan diri dengan lagu "Nenek moyangku seorang pelaut". Ahh ombak kecil ji ini. Pelaut ji nene moyangku. Bukan Youtuber.
ABK menyuruh saya masuk ke kapal. Mending di atas sini. Kalo da tabale ini kapal, tinggal sa loncat, berenang. Saya pasrah saja di atas ini. Pakai jaket. Berpegang di badan kapal. Saya sudah rela tubuh indahku digerayangi hujan.
Tambah lebat ini hujan. Bunyinya mesin kapal yang ribut tidak terdengar lagi. Ini ombak sudah tidak kenal kompromi. Tak berperikelautan. Bikin kapal oleng kanan kiri. Nahkoda mengurangi kecepatan. Sa intip kembali ombaknya, eih tambah sadis. Situasi ini persis momentumnya Kraken keluar dari dasar laut dalam Wrath of The Titans.
Saya pucat. Tapi, saya perhatikan, ini nelayan dan ABK ketawa-ketawa saja. Setiap kali guntur dan ombak datang menghempas, mereka balas teriak, "Kurang kencaaaaang, tambah lagiiiii, ooooohhhoowwwww". Tidak terpancar sekali ketakutan dari raut wajahnya. Mereka berani menantang dan "papalumbu" (baca: bikin emosi) kekuatan alam.
Sungguh ironi. Kita sudah takencing-kencing. Habismi juga doa dibaca. Mereka malah meledak-ledak dalam bahak di anjungan. Seolah-olah mem-pareare (meledek) Dewa Laut Poseidon, supaya datangkan badai yang lebih dahsyat lagi. Belum selesai badai memangkas jarak pandang, tiba-tiba mesin kapal mati. Kapal berlayar keluar dari rute. Sudah terombang ambing mengikuti arah angin. Nahkoda sudah kehilangan kendali.
Bayangan akan mati di sini terlintas sekejap. Tetiba saya langsung teringat dosa-dosa. Bayanganku sudah sampai di neraka. Dalam hati saya memohon memang ampunan kalau keadaan semakin memburuk. Sebenarnya, ketakutan terbesar saya adalah skenario jika kapal terbalik. Saya bisa berenang. Tapi, bagaimana dengan Julehaku sayang?Baru tujuh hari kasihan dibeli itu motor. Mau tenggelam mi. Saya sungguh berada dalam situasi under pressure level dua. Level pertama masih dipegang pelajaran Matematika.
Hidup telah di ujung tanduk. Seperti jagoan yang kalah-kalah duluan. Saya menemukan kembali kegigihan di tengah badai tadi. Saya ingat kata-kata mutiaranya Optimus Prime yang paling impresif, "In any war, there is calm between the storms".
Ajaib, kalimat itu menghempas lobus temporal otak saya pada memoar masa kanak-kanak. Saya terkenang kembali pengalaman silam. Pengalaman menaklukan gelombang ketika bermain di lautan.
Ada satu masa, pada sore hari, kami berbanyak orang, pergi menengok jala di laut. Jala itu sudah dipasang sejak pagi. Banyak orang yang ikut. Semua menumpangi satu batang perahu lesung. Koli-koli. Saking banyaknya, ada yang harus dipangku. Kenapa memaksa melebihi kapasitas sampan? "Karena kalo tida banyak, tida seru," kata salah seorang temanku.
Di tengah laut, belum sampai di lokasi jala, ombak keras datang. Gelombang bergulung-gulung bermunculan. Koli-koli terombang ambing. Air masuk ke lambung koli-koli. Semua penumpang berlomba dengan ombak mengeluarkan air. Saya panik. Waktu itu saya belum pandai berenang. Ada yang menangis. Ada yang panggil mamanya.
Lalu, yang tertua di antara kami semua, memberi instruksi: "Semua buka bajunya, buka celananya, cepat". Ihh kenapa kita disuruh telanjang ini? "Pokoknya telanjang bulat semua, cepat", pinta kakak itu. Waktu itu kita masih kecil. Belum berbulu. Sontak saja, semua telanjang. Bugil bareng di atas koli-koli. Syarat telanjang itu absolut.
Setelah semua tanpa sehelai benang pun, kakak itu kasih perintah lagi, "Sekarang teriak luku luku luku luku luku." Begitu terus berulang-ulang. Sampai ombak reda, teduh dan jinak.
Saya kira ini main-main saja. Tapi ternyata ampuh. Avada kedavra, tiba-tiba lautan jadi tenang. Melihat lautan sudah jinak, kita semua ketawa ketiwi. Kalo kita lihat ombak datang kembali mendekat, serentak semua teriak lagi "luku luku luku luku". Langsung datar itu permukaan laut. Ombak lamat-lamat jinak. Karena saya yang paling takut, saya ucapkan terus mantra itu sampai di kampung.
Tiba di darat, saya tanya kakak itu. Kenapa bisa begitu? Mantra dari mana lagi itu? Siapa juga yang karang? Dia tidak tahu juga. Dia hanya bilang kalo pernah dengar ceritanya nene-nene. Katanya, orang-orang dulu kalo berlayar ketemu ombak besar selalu ucapkan "vocab" yang tadi.
Kembali ke cerita bodi Lasalimu-Wanci.
Pada situasi badai yang mengamuk itu, saya menerapkan mantra Luku-luku. Karena sendirian saja di atas geladak, saya bebas rapalkan mantra "luku luku luku" sepuas hati. Saya tes-tes ucapkan itu. Berulang-ulang tapi tidak mempan. Saya pikir kembali. Ohh pasti karena masih pake baju semua penumpang di kapal ini. Nah, di sini masalahnya. Bagaimana cara mempersuasi orang-orang di kapal supaya secara suka rela bertelanjang badan. Bugil rame-rame. Istilah kerennya, get naked under the storms.
Tidak mungkin saya mau datangi satu-satu, terus bilang "Tabe dih pak, ombak lagi kencang, kita harus telanjang sekarang juga. Permisi dih bu, kebetulan ombaknya lagi kencang, bisa buka pakean ta kah, cede sama beha juga na, nanti kalo ombak suda tenang baru ta pake lagi, ehh jangan lupa, anaknya yang gadis juga diingat-kan, nene-nya nda usahmi, gendong saja, buang di laut, jadikan tumbal Kraken." Ini umpamanya saja. Kenyataannya tidak mungkin to. Malah saya pasti yang dibuang di laut. Dijadikan cemilan Hiu.
Setelah pikiran ngelantur saya itu hilang, Alhamdulillah badai juga pelan-pelan pergi. Mungkin sisa-sisanya "luku luku luku" yang saya bilang barusan. Mesin kembali dinyalakan. Kemudi diputar. Beberapa saat kapal telah menepi di dermaga pulau Wanci. Saya rasa lega. Khalayak lalu berkerumun hendak menjemput.
Setelah beberapa hari di Wanci, saya dan Juleha kembali memulai petualangan lain. Mengarungi perairan Banda menuju Kendari. Tentu saja sambil diiringi marabahaya buih lautan di Waode Buri. Di situ adrenalin saya pernah teruji. Membersamai KM. Agil Permai menaklukan ombak laut Banda.
Jika kondisi sudah pada kode merah atau kapal dalam keadaan genting, patokan saya cuma satu. Orang Bajo. Jika klan yang akrab dikenal sebagai pengembara lautan itu mulai merasa takut berada di laut, berarti itu tandanya sudah bahaya sekali. Kasi keluar memang ajimatmu. Baca memang doamu. Tulis memang wasiatmu. Bagi memang warisanmu.
Beberapa tahun tinggal di Wakatobi, menjadikan saya akrab dengan lautan. Saya mengenal orang-orang yang tinggal di gugusan pulau simpang laut banda ini sebagai abdi samudera kelana. Mereka adalah orang-orang tangguh yang telah lulus teruji di lautan. Saya punya satu pengalaman yang menunjukan ke"jagoan"an mereka. Waktu itu, teman saya dicegat petugas asuransi, di Pelabuhan Nusantara, Kendari. Ia ditagih sejumlah uang.
"Untuk apa lagi ini? banyanya juga kita mo bayar, suda tadi di depan" kata teman saya.
"Asuransi jiwa pak, jangan sampai ada apa-apa dalam perjalanan bapak," petugas itu ngotot.
Teman saya itu kemudian mendekatinya. Lalu ia tegaskan, "eh Adik, ko tau artinya jales veva jaya mahe ka? Biar itu kapal da tabela di tengah laut, sa nda akan mati di laut".
Jelas mi nda mati. Kan ada "luku luku".
Ett jangan dulu buru-buru anggap takabur itu temanku. Ko blum liat di belakang telinganya ada apa. Bersisik, ada insangnya. Setelah saya tunjukan, petugas asuransi itu terkejut. Dia hanya bisa diam. Ihhh betulan eh. Mungkin dalam hatinya, "Aquaman la anu ini e". Dia lalu membiarkan teman saya lewat tanpa membayar.
Tentang "luku luku" tadi, kalau tidak percaya, silakan saja.
Just put your life on the line into the deep blue sea, and feel the agony. Lalu rasakan khasiatnya.
Sudah mi e. Sampai di sini dulu baka-bakanya.
*disclaimer: temanku itu betulan ada insangnya dan bersisik di telinga. Waktu di jalan menuju pelabuhan kita sempat lewat di pelelangan ikan. Ada mama-mama da buang sampah ikannya, tidak sengaja terciprat kena temanku.
Penulis: Anggoro Haris
(Jurnalis foto dan pemerhati debur ombak)


Nenek moyangku memang pelaut ulung melahirkan generasi pelaut & komedian ulung😂
BalasHapus