Plang Jalan di Kota Baubau Beraksara Wolio Tapi Tidak Berbahasa Wolio


Plang nama jalan adalah suatu papan informasi yang menampilkan nama jalan tertentu. Dengan adanya plang nama jalan ini, diharapkan orang-orang akan mudah mengetahui nama lokasi tempat dia berada. Juga menjadi sumber informasi bagi seseorang yang mencari alamat yang dituju. 


Pada umumnya plang nama jalan ini terbuat dari besi plat dengan berlatar hijau, yang dilengkapi tiang penyangga. Agar membuat posisinya agak lebih tinggi dan membuat orang-orang dapat dengan mudah membaca nama jalan yang tertera pada plang tersebut. Warna hijau juga dipilih karena warna ini biasanya dapat terlihat di malam hari. 


Tidak jarang kita temui, plang jalan di suatu daerah dibuat sedemikian menarik yang ditambah dengan lampu penerangan atau hiasan tertentu agar lebih menarik minat wisatawan. Di beberapa kota di Indonesia juga, plang nama jalan dibuat dengan dwi aksara yaitu penulisan nama jalan dengan menggunakan dua bahasa. Tulisan yang pertama menggunakan bahasa Indonesia, kemudian tulisan yang di bawahnya menggunakan aksara asli dari daerah tersebut.


Selain berfungsi untuk memperjelas informasi nama jalan yang tertera, hal ini juga dapat menjadi karakteristik dari suatu daerah, yang membedakkannya dengan daerah lainnya. Sama halnya di kota Baubau, yang mana papan nama jalan atau plang jalan ini disertai dengan penulisan nama jalan dengan menggunakan aksara arab wolio, atau buri wolio.


Sepintas plang nama jalan dengan buri wolio tersebut tidak terlihat aneh. Tapi sebagai masyarakat di kota ini, yang sejak SD telah diajarkan tentang bahasa dan aksara wolio. Saya agak merasa janggal, ketika penulisan nama jalan yang ditulis dengan buri wolio tapi tetap terbaca sama dengan bahasa Indonesia yang sudah tertulis jelas di atas aksara tersebut. 


Misalnya penulisan nama jalan Sultan Hasanuddin, di depan Lippo Plaza Buton. Jika kita membaca tulisan yang di atas akan dengan sangat jelas tertulis "Sultan Hasanuddin", namun ketika kita membaca tulisan dengan menggunakan buri wolio, yah bacanya sama juga "Sultan Hasanuddin". Berarti aksara ini hanya ingin menampilkan aksaranya saja tapi tidak dengan berbahasa wolionya. 


Maksud saya, jika memang tujuan penambahan aksara arab wolio ini untuk melestarikan aksara tersebut, kenapa tidak sekalian dilestarikan dengan bahasa aslinya, yaitu bahasa wolio. Dalam bahasa wolio jalan disebut dengan kata "dhala" bukan "jalan" seperti yang tertera dalam plang jalan tersebut. 


Saya sangat mengapresiasi dan mendukung ide dan proyek-proyek pemerintah untuk melestarikan budaya-budaya lokal, apalagi di daerah tanah leluhur kita. Hanya saja, kesalahan-kesalahan kecil seperti ini dapat memengaruhi perubahan budaya itu sendiri. Apalagi dalam hal plang jalan ini, disaksikan seluruh masyarakat yang ada di daerah tersebut. 


Dalam tulisan ini juga, saya mengajak kita sebagai generasi muda untuk tetap melestarikan budaya-budaya yang menjadi warisan nenek moyang kita. Terutama dalam penggunaan bahasa daerah yang mulai tergerus oleh bahasa nasional Indonesia, juga bahasa-bahasa gaul yang kurang elok jika disandingkan dengan kepribadian tanah wolio ini. Jika ditelusuri pun, hanya sedikit tempat di kota ini yang anak-anaknya masih menggunakan bahasa wolio. Salah satunya di Pulau Makasar.


Ande mincuana yingkita, yincema mo uka? 


Penulis : Ade Nyong 


1 komentar:

Pages