Metamorfosis Visual Pahlawan Nasional dari Buton: Sultan Himayatuddin


Semangat juang Oputa Yi Koo harus selalu menyala di hati orang Buton, iye?


Beberapa hari ini gubernur Sulawesi Tenggara, Ali Mazi, kunjungan kerja ke kota Baubau. Salah satu agenda beliau adalah mengecek langsung persiapan pembuatan patung dan museum Sultan Himayatuddin yang rencana akan dibangun di Kotamara.  


Ini kabar baik, agar sang pahlawan nasional lebih banyak dibahas dan dikenal lagi oleh masyarakat. Jujur, informasi tentang sang sultan yang bergelar Oputa Yi koo itu, masih sangat jarang diketahui. Saya sebenarnya menunggu quote-quote dari sang sultan. Bila ada. 


Andai kalian yang sudah sampai membaca di bagian ini, dan tahu tentang tuturan langsung dari Oputa Yi koo, mohon saya diberitahu. Supaya tak hanya quote dari Mario Teguh yang saya hafal. 


Lanjut. Beberapa minggu yang lalu, jemari saya sontak berhenti ketika melihat postingan seorang sahabat di Facebook. Di situ tampak sketsa terbaru Sultan Himayatuddin. Versi mana lagi ini? Saya melihat satu alamat link di bawah gambar, saya tekan, dan tersambung ke website Direktorat Kepahlawanan, Keperintisan, Kesetiakawanan dan Restorasi Sosial (K2KRS). Wah, ini bukan main-main. Di dalamnya, saya menemukan gambar-gambar para pahlawan Indonesia dilambari profil singkat. Salah satunya adalah Sultan Himayatuddin dengan visual yang lebih berwarna dan keren. 


Gambar Oputa Yi Koo dari dari Website K2KRS


Untuk yang belum tahu Sultan Himayatuddin, saya akan tuliskan sedikit profilnya. Sultan Hiyamatuddin adalah sultan Buton ke 20 dan 23 yang memerintah di tahun 1750-1752 dan tahun 1760-1763. Nama lengkapnya Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi. Sejak kecil pertumbuhan badannya cukup lesat sehingga ia memiliki postur tubuh yang besar, tinggi, dan tegap. Olehnya, ia sering dipanggil La Karambau. Yang bermakna "kerbau" dalam Bahasa Wolio. 


Sultan Himayatuddin terkenal karena perlawanannya yang keras pada Belanda. Berbeda dengan beberapa sultan pendahulunya yang melunak pada VOC, La Karambau memilih jalan terjal perlawanan. Ia tak sudi melihat rakyatnya hidup menderita di bawah penjajahan yang berkamuflase dalam ikatan kerjasama. Perjanjian itu terlampau merugikan dan menindas rakyat Buton. Ia kemudiaan berjuang melawan belanda, masuk hutan, dan memimpin perang gerilya. Atas jasa-jasanya itulah, tahun 2019, melalui Keputusan Presiden (Keppres) nomor 120/TK/2019 tanggal 7 November 2019, La Karambau diangkat menjadi pahlawan nasional.


Lamun fokus tulisan ini, bukan di kisah dulu. Tapi bagaimana Sultan Himayatuddin hari ini. Terkhusus mengenai visualisasi wajah di patungnya nanti. Sebagaimana kita ketahui, tahun 1750, belum ada Xiomai Mi 10 Ultra yang terkenal "juuahat" kameranya. Yang bisa mengabadikan dan merekam gambar dengan pixel yang tinggi. Wajah jadi puluhan kali lebih ganteng. Saya suka gawai itu. Yah kok jadi curhat?


Singkatnya, dokumentasi rupa La Karambau tidak ada. Baru sekarang inilah, melalui karya La Ode Jagur Bolu, kita punya sekilas gambaran sosok sang sultan. Gambar itu juga yang dilihat oleh Jokowi saat penganugerahan gelar pahlawan. Menurut beberapa kabar yang beredar, sketsa itu digambar berdasarkan mimpi. Seru, kan?


Metamorfosis visual Sultan Himayatudin menemukan bentuk detailnya di tangan Iwan Khuwas. Founder Baubau Creative (BBCF) itu, menyempurnakan bentuk goresan scrible pointilis (gores dan titik) almarhum La Ode Jagur Bolu, ke bentuk yang lebih realis. 


Sketsa Oputa Yi Koo dari Pak Djagur (kiri) dan karya Iwan Khuwas (Kanan)


Iwan bercerita, ketika sedang heboh pengusulan gelar pahlawan Sultan Himayatuddin, iseng-iseng dia mencari gambar sang sultan di Google. Yang muncul ternyata cuma satu gambar dan itu pun tak terlalu jelas. Kapasitas filenya kecil. Muncullah ide untuk menggambar ulang sketsa yang ada. Proses lukis disiarkan langsung di Facebook. Dimulai pagi hari, dan kelar sekitar pukul dua siang. Gambar itu pun diapresiasi bagus di jagad maya.


"Ini panggilan nurani. Saya ingin berkontribusi kepada daerah lewat karya yang saya hasilkan. Sekaligus ingin menunjukan bahwa generasi muda Baubau memiliki potensi kreativitas seni yang patut diperhitungkan," terang Iwan saat saya hubungi lewat jaringan telepon.  


Yang menarik sebenarnya visualisasi dari K2KRS itu. Meski lebih berwarna, namun ada sedikit perbedaan dari sketsa awal (pertama dan kedua) yang dilukis. Sepintas, saya melihat lukisan itu malah lebih mirip dengan wajah Habib Syech Bin Abdul Qodir Assegaf. Tidak percaya? Sila lihat perbandingannya berikut ini?


Sketsa Oputa Yi Koo dan gambar Habib Syech Bin Abdul Kadir Assegaf 

Apakah memang wajah asli Sultan Himayatuddin rada ke-Arab-araban? Saya belum menemukan jawaban yang meyakinkan. Tapi setidaknya saya berharap patungnya nanti bakal indah serupa sketsa awal yang telah dibuat. Jangan dibuat kaleng-kaleng mirip beberapa patung yang saya lihat di pojok kota. Ada patung yang lengannya malah lebih besar dari kepala, ada patung yang dicet kayak pagar kelurahan, ada juga patung yang diniatkan Anoa malah lebih mirip black panther.

 

Jangan bilang patung Oputa Yi koo bakal melanjutkan patung seri naga.  Kepalanya di Kamali, ekornya di Palagimata, terus perutnya bakal muncul di Kotamara ditunggangi sang sultan. Saya rasa tidak. 


Sama seperti harapan Pak Gubernur, saya ingin patung itu dibuat dengan estetika yang bagus, proporsional, dan keren biar jadi kebanggaan masyarakat Sulawesi Tenggara, khususnya Kepulauan Buton. 


Tapi jujur, di antara tiga gambar Oputa Yi Koo, kalian sukanya yang mana?


Penulis: La Anto

3 komentar:

  1. Saya suka pertama dan saya lebih suka seyelah disempurnakan dengan pensil...

    BalasHapus
  2. Yg pertama.mempertegas garis2 gambar kedua.sosok besar "karambau" keliatan.tinggal diwarnai dan memalingkan wajahx eedi
    Sedikit ke depan.

    BalasHapus
  3. Saya suka gambar pertama hasil goresan tangan almarhum la ode djagur bolu.dan saya tidak suka kalau ada anak muda mengaku menyempurnakan sementara foto copy di sandingkan dengan goresan tangan!!!

    BalasHapus

Pages