Aku ketemu Anoa. Berpapasan. Bukan di kandang atau penangkaran. Di alam liar. Kalian sudah pernah? Entah bagaimana caranya, saya lupa detailnya. Tiba-tiba saja aku sudah berakhir di dalam hutan Lambusango.
Ceritanya begini: waktu itu kami berempat. Aku dan tiga orang adik. Ada La Iko, La Caning, sama La Ditoko. Awalnya kami dari Wakomba. Itu nama kebun. Kami berjalan satu banjar. Melintasi jalan kecil yang membelah rerumputan dan belukar.
Kemudian kami melewati jejeran pohon besar dan tua. Seperti di Dhodhoowe besarnya. Dhodhoowe itu kawasan pohon besar, tempatku pate burung Ntomi-ntomi semasa kecil dulu. Di barisan pohon besar itu banyak monyet bergelantungan. Sesekali kawanan makhluk yang kerap jadi ganggu-ganggunya manusia itu bersikap usil terhadap kami.
Caraku agar terhindar dari gangguan para monyet itu ialah dengan membawa sebilah kayu. Untuk pemukul. Keras kayuku. Pokoknya kena Badak, pingsan. Sudah pasti, kalau kena monyet langsung rest in peace. Untuk ketiga adik ini, aku pun membekalinya dengan kayu-kayu. Mereka masih kecil-kecil. Kayunya kecil-kecil saja. Yang paling kapatuli (nakal) itu La Ditoko. Dia tidak mau memegang kayu. Dia cuma asyik main ular-ular di handphone. Game Snake Xenzia. Sepanjang jalan fokus di layar HP. Akhirnya tubuhnya berdebam menghantam bumi. Kakinya terkait akar pohon yang melintang. Tobat!
Aku berjalan paling depan. La Ditoko berada pada barisan paling belakang. Tiba-tiba saja seekor monyet, jelek, tidak jelas jantan atau betina melompat dari atas pohon menyergap kami. Sambil berteriak-teriak tak jelas, monyet itu cengar-cengir di hadapan kami. Sumpah, ini monyet parah jeleknya.
Kronis!
"Huhu… haaha… Huhu… haaha…" Terus menggaruk-garuk sekujur tubuhnya yang kegatalan. Bingung. Apa maksud monyet ini? Narasinya tidak jelas. Pronounciation-nya amburadul. Plossive sound-nya juga kurang kental. Dasar monyet gagap.
Perjalanan kami serasa terganggu dengan kehadiran monyet bangsat ini. Aku pun mulai mengangkat sebilah kayu yang ada di genggaman, mengambil ancang-ancang untuk menghantam rubuh monyet itu. Bibirnya yang semrawut menjadi target bidikanku. Aku yakin dengan tenaga yang kuat pasti bisa membuat monyet jelek, kurus, berbulu ini terhuyung-huyung.
Belum sempat kuayunkan pukulan, ia langsung terbirit, menggelantung ke sana kemari di dahan-dahan pohon. Seakan ia tahu akan mendapat bogem mentah jika terus berada di hadapanku.
Segera kuperintahkan ketiga adiku mengambil langkah panjang, berjalan cepat sebelum monyet bangsat tadi melapor ke abang-abangnya. Hanya saja La Ditoko yang agak bandel di antara adikku yang lain, enggan menuruti perintahku. Ia malah asik duduk di bawah pohon berkonsentrasi dengan gamenya yang baru naik level. “Biar nanti dia dikeroyok Andoke baru tahu rasa!” gumamku kesal di dalam hati.
Kami melanjutkan perjalanan bertiga. Meninggalkanya tenggelam bersama gamenya sendiri. Belum lama melangkahkan kaki, kami dikejutkan dengan endusan parau di balik semak belukar.
Rumput da goyang-goyang sendirinya. Ihh, takutku.
Aku yakin ini pasti seekor Babi. Tidak salah lagi. Sedang kedua adikku yang berada di belakangku semakin gusar menerka-nerka apa yang ada di balik semak. Kulihat wajah mereka pucat pasi. Semak semakin bergoyang akibat pergerakan hewan itu. Sesekali ia mengaum, mengerang, mengendus atau apalah sebutannya. Jelasnya, suaranya agak sedikit berbeda dengan suara ngorok kakek-kakek yang tiduran karena capek habis nyangkul sawah lima hektar.
Keyakinanku melemah. Ini bukan Babi. Tapi apa gerangan di balik semak itu? batinku terus dihantui tanda tanya.
Kan, tidak mungkin di balik semak itu adalah seekor naga atau Kaiju yang muncul dari dalam perut bumi. Makhluk aneh di balik semak itu seolah-olah mengikuti pergerakan kami. Ketika kami berjalan, ia bergerak pula. Pergerakannya terbaca dari tumpukan semak yang ikut bergoyang. Seirama, pelan, dan mencekam.
Sesaat kami terdiam. Mengizinkan mahluk itu untuk melintas terlebih dahulu. Memberinya jalan. Jangan sampai dia malu-malu juga.
Tak lama, setelah kami hentikan langkah, makhluk aneh misterius itu bergerak maju. Sedikit demi sedikit aku dapat menangkap sosoknya. Boeehhh, bahaya, mati mi kita.
Tubuhnya gemuk dibalut lemak berkilo-kilo. Matanya, bening merah membiru seperti barusan digebuk massa. Tatapannya, tajam menusuk sukma. Erangannya membahana, seakan mampu mengembalikan para bencong kepada fitrahnya.
Akhirnya, mahluk itu keluar dari sangkar semaknya. Kini, kami sudah berhadapan. Sedang kedua adikku yang tadi, yang berada lima meter di belakangku terlihat cukup santai. Dengan entengnya menyerahkan situasi ini pada kakaknya dengan postur tubuh yang hanya berisi tulang dan mie kaldu. Kurang ajar.
Alam terlihat mendukung pertemuan ini. Suasana semakin hening dan mencekam. Ada potensi chaos. Terik mentari siang itu tak sanggup merayap ke dalam hutan. Tertadah oleh ranting dan daun-daun pohon tua.
Sejurus kami telah beradu pandang. Kita sudah baku lihat.
Sulit untuk jatuh cinta pada pandangan pertama dengan mahluk beringas seperti ini. Detik waktu seakan berjalan pelan, persis seperti syutingan lambat dalam tayangan TV atau sinetron yang banyak editannya. Setiap tarikan napasnya menjadikan bulu romaku bergidik. Embusan napasnya yang terbawa angin menerpa kulitku, terasa bagai ditusuk ribuan jarum. Aura makhluk ini mendominasi. Siapapun yang bertarung dengannya akan dipaksa murtad dari keberanian.
Kata orang-orang kampung, anoa adalah hewan sakral. Itu sebabnya beberapa anatomi tubuhnya ada yang dijadikan logo.
Anoa memiliki kekuatan setara dengan empat puluh orang dewasa yang berotot. Wuihhh mantap. Minum suplemen apa si anoa bisa sekuat itu? Pertanyaan itu terlintas dikepalaku ketika mengenang cerita tetua kampung tentang anoa.
Anoa tampangnya jelek. Lebih mirip jin Ifrit. Katanya, anoa adalah titisan jin. Inilah yang menjadikan penduduk kampung begitu takut. Orang begitu takut dengan hewan ini. Hingga warga di kampung menyebut “Anoa” dengan kata “Beliau”. Untuk menyebut namanya pun begitu bergidiknya luar biasa. Bayangkan mi.
Bagaimana caranya supaya bisa mengalahkan "Beliau", sedang kekuatanku, kasian, hanya setara dengan tujuh balita cengeng. Pernah nonton film 300? Itu he, yang film Sparta baku kles dengan Persia di bawah komando Raja Xerxes. Nah, tradisi Agoge sangat tepat untuk menggambarkan situasi ini. Seperti di film itu.
Aku penasaran, seberapa besar sih kekuatan mamalia endemik ini hingga begitu ditakuti? Kok bisa, keberingasannya tersohor hingga ke pelosok-pelosok jazirah tenggara Sulawesi. Ahh, tidak peduli, sejenak kukumpulkan semua keberanian yang tersisa. Membulatkan tekad. Menguji reputasi hewan ini.
Lagian, situasi seperti ini tak bisa diapa-apakan lagi. Orang bilang istilahnya “kandang paksa”. Jika bukan aku yang mati maka “Beliau” yang harus mati. Meski tubuhku kurus, aku masih punya tangan untuk memukul atau setidaknya menggelitik. Masih punya otak untuk mengatur strategi dan yang paling penting ialah jika aku harus mati, aku mati dalam perjuangan. Yaa, meski judulnya tak begitu mengenakan sih, “Mati diseruduk Anoa” .
Kontras dengan "Beliau". Tubuhnya gemuk pasti membuatnya susah bermanuver. Tak punya tangan untuk memukul. Kaki semua. Mungkin saja maksud penciptaan makhluk ini dengan empat kaki tanpa tangan hanya agar ia bisa berlari lebih cepat jika dikejar musuh. Itu sekadar argumen saya untuk menguatkan diri.
Detik-detik pertarungan kami tampaknya segera dimulai. Ditandai dengan tatapannya yang semakin tajam melukai dan kakinya yang kokoh mencengkram tanah. Berancang-ancang untuk melakukan serangan dahsyat.
Waktu itu, tidak ada guntur yang meraung, tak ada sambaran kilat untuk mengiringi pertarungan sengit ini. Hanya ada senyap sebagai saksi pertarungan tanpa gelar di abad ini.
Bersiap menghadapi serangannya, badanku terkunci, napas kutahan, tangan kananku menggenggam erat sebilah kayu. Kayu yang tadi untuk hantam monyet. Kayu bukan sembarang kayu. Kayu ini mampu merobohkan seekor gajah, bayi gajah lebih tepatnya.
Seketika "Beliau" meluncur deras kehadapanku. Dengan tubuhnya yang membungkuk, beliau hendak menabrak, menanduk tubuhku yang kurus. Siap menyeruduk. Menanduk. Membongkar. Bakaaaaarrrrrr.
Melihat serangannya yang penuh bernafsu, keberanianku tiba-tiba menyusut. Menyublim menjadi udara.
Jaraknya semakin dekat, beberapa inci lagi beliau akan menabrakku. Mendaratkan jidat bertanduknya pada tubuhku.
Dengan sigap. Aaaaaarrrrgggghhhhh…teriakku sekencang-kencangnya. Mulut terbuka lebar. Lebih lebar dari biasanya. Liur berjatuhan menetes seperti komodo. Aku seolah-olah hendak berubah menjadi Goku. Super saiya.
Beliau semakin dekat. Aku yang semula berani menantangnya menjadi ciut seketika. Kaburrr...! Dengan sigap dan tangkas kukeluarkan jurus lari seribu bayangan warisan dari kakeku yang seorang veteran perang.
Lalu.
"Beliau" pun kelimpungan mencariku. Mengendus-endus udara, keheranan tidak mendapatiku lagi.
Aku dengan kecepatan tak terbayangkan berlari memanjat pohon yang dari tadi telah kulirik. Sudah lama pohon lumayan besar yang berada tiga meter di samping kananku menjadi incaran, untuk dijadikan perlindungan.
Sebenarnya, di dalam kepala aku telah mencari-cari cara untuk memanjat pohon itu dengan sekejap mata. Rasa takut dan gelisah yang merundung sangat membantu pengaplikasian jurus seribu bayangan. Jika mampu mengendalikan rasa takut maka rasa takut sangat efektif membantu kinerja otak dalam berpikir cepat di bawah tekanan. Dalam situasi apapun kita harus mampu menguasai diri.
Lalu?
"Beliau" semakin kalap. Menyeruduk batang pohon. Bergoncang. Tubuhku bergoyang. Kulihat handphone sudah banyak pesan masuk yang meminta foto. Sudah pukul enam sore lewat. Deadline is comin' my way.
Masih dengan jurus seribu bayangan. Dengan kecepatan cahaya, meneguk segelas air. Tidak pake mandi cuci muka, langsung tancap gas ke Graha Pena.
I know i'm late. Sorry, keboboan.
Penulis: Anggoro haris
Jurnalis foto

Tidak ada komentar:
Posting Komentar