Melupakanmu adalah hal tersulit dalam hidupku. Bahkan rintik hujan yang melarung bersama air mata, tak kuasa menghapus jejakmu. Hatiku terlanjur mencinta. Namamu terlanjur terpancang di kedalaman hatiku. Aku mafhum, kedalaman cinta selalu berbanding lurus dengan dalamnya derita kehilangan. Bahkan, lebih. Itu yang kurasakan kala mendengar kabar pernikahanmu dengan lelaki bangsawan berdarah Ode.
Kusadari darahku tak setitispun membiru. Miskin gelar, apalagi harta. Apatah lagi yang kuandalkan selain cinta yang menyala-nyala di dada. Namun semua itu perlahan redup kala ayahmu menghitung nasabku yang tak bersambung dengan para raja. Bukan orang berada. Bukan sanak famili walikota. Bukan pula sepupu artis ibu kota. "Berteman saja dulu" ucap ayahmu. "Kapan putusnya," dengar hatiku.
Benar saja, sejak pertemuan dengan ayahmu malam itu, kau mulai menjauh. Sikapmu berubah. Dari sepuluh kali sms sehari, menyusut menjadi tiga, dua, dan kini seadanya saja. Dari diksi romantis 'Bebs' menjelma menjadi 'Bro'. Ada apa, Sayang?
Hingga hari bersejarah itu tiba, lelaki berdarah Ode itu meng-upload fotonya bersamamu di Facebook. Di bawah foto itu tertera kalimat yang menghujam sukma: lagi foto prawed, cemungud.
Seketika hatiku terbakar api cemburu. Perihnya dimana-mana. Aku kecewa. Sebegitu mudahkah kau melupakan cinta kita. Memilih bersanding dengannya. Kau unggah pula. Apa kata followers-ku?
Kurebahkan keluh pada malam. Berharap pagi menghapus jejakmu. Namun, mengapa malam - malam ini serasa panjang. Mencekam. Bahkan tatkala pagi menjelang, wajahmu tak urung hilang dari ingatan.
Sejak itu, aku mulai jengah dengan yang namanya adat istiadat. Dialah pangkal musabab dari nestapa. Betapa picisnya cinta yang ditakar dengan silsilah darah, gelar dan emas permata. Hari-hariku bernaung ratap kelabu dan rintih pilu. Oh, cintaku terhalang Ode.
Kita doti saja, bujuk temanku. Tidak. Aku tak sudi memakai cara culas seperti itu. Tak beradab. Itu bukan laku lelaki sejati. Aku memang pemuda miskin, tapi masih punya iman, BPKB motor, dan harga diri. Pantang bagiku menggunakan doti, ilmu hitam yang konon katanya sakti membolak-balikan hati.
"Meski tak diundang, aku ingin hadir ke pernikahannya," tuturku.
"Kamu sinting!" hardik temanku.
Aku hanya diam. Jiwaku bergejolak. Apa hatiku kuat? Mungkinkah aku mampu berdiri tegar melihat wanita yang kucintai bersanding dengan lelaki lain?
Benar, jomlo hanya berencana, penghulu yang menikahkan. Dan, hari itu datang juga. Kau akhirnya sah menjadi pendamping hidupnya. Di panggung pelaminan, kau tampak cantik. Cantik sekali. Bibirmu yang ranum tak henti-hentinya menyunggingkan senyum bahagia. Sesekali dimonyong-monyongkan kala berfoto dengan teman sebayamu.
Aku hanya bisa meratap. Menatap lekat-lekat dari deret bangku undangan sembari menelan pahit cinta dan se-cup puding cokelat. Aku cemburu. Mengapa bukan aku? Mengapa puding ini terasa hambar? Mengapa bedak suamimu ketebelan? Mengapa biduan mendendangkan Thousand Years, bukan Mantan Terindahnya Raisa? Mengapa gaunmu berwarna putih abu-abu, setala dengan hatiku yang kelabu?
Ah, terlalu banyak mengapa-mengapa yang berkelebat di kepala. Ingin rasanya kuturuti puisi Cinta di AADC: pecahkan saja piring supnya. Biar ramai. Biar mengadu sampai gaduh. Biar pernikahan ini batal, dan kau kembali ke pelukanku.
Kucoba melangkah meski berat terasa. Setiap jengkal kaki menghadirkan sejumput kenangan. Satu persatu bayangmu hilir mudik di pikiranku. Tentang masa indah dulu. Tentang mimpi kita membangun gubuk kecil di tepian danau. Tentang cakapmu yang tak bisa jauh dariku. Tentang Boy dan Reva, nama anak-anak kita kelak. Tentang...,ah bibirku tiba-tiba kelu. Dadaku disesaki gejolak aneh. Jantungku berdenyar lebih cepat dari biasanya. Bulir keringat pelan menitis dari sela alis. Mungkinkah aku tegar hingga ke pelaminan?
Kuterus melangkah dengan separuh cinta yang tersisa. Hanya itu yang membuatku kuat dan nekat. Hingga tak terasa, kini aku berdiri seperentangan tangan darimu. Semoga kau bahagia selalu, begitu ucapku untukmu. Kau tersenyum ketir. Suamimu tersenyum lebar, sembari membelai tanganmu dengan elusan-elusan liar. Amboi, rasa-rasanya ingin kumasukkan amplop ini ke mulutnya. Tidak. Aku keliru. Ini bukan salah suamimu. Dia pria baik nan beruntung. Hatiku saja yang kurang lapang menerima takdir cinta.
Pelaminan itu menjadi akhir dari ceritaku tentangmu. Tentang sepotong keberanian demi cinta. Benar, aku kecewa, Sayang. Benar-benar kecewa. Namun kecintaanku padamu lebih besar dari apapun. Menaungi rasa benci. Mensucikan diri dari doti. Menyepuh perihnya rasa ingin memiliki.
Terkadang, cinta tak sekadar berbincang ihwal gejolak rindu berpadu, namun juga berbisik tentang peliknya keikhlasan. Tentang keberanian hati untuk meletakkan kebahagian kekasih di atas dalih apapun. Bahkan, meskipun itu menari di atas penderitaanku. Sungguh, aku bahagia manakala engkau bahagia.
Cukup itu alasanku mencintaimu.
Penulis: La Anto
Ketgam: Ilustrasi. Foto: Alienco.net
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusDoti saja😀😀
BalasHapusLebih ikhlas lagi kalau berani menyanyi di nikahan mantan, heheh.
BalasHapusDoti sajaa maunyaa������
BalasHapusBisakah kita busur kepalanya sja 🤣
BalasHapusMau diapa, janur kuning sudah melengkung, tidak ada arah untuk menikung apalagi doti yang katanya bisa bikin kembung����
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusLanjutkan dan terus berkarya.
BalasHapus.����
Tulisanya menarik. Banyak kosa kata indah..
BalasHapus