TANYA :
Dear, admin biro jodoh 'Solusi Tuna Cinta'. Semoga rejekinya lancar di tengah corona.
Malam, Min. Saya mau curhat. Sebelumnya, perkenalkan. Nama saya La Rengge. Saya lelaki biasa, namun dibilang tampan maksimal oleh kekasih saya : Wa Kalambe.
Jadi begini,Min. Bulan Idul Fitri ini, rencananya saya mau melamar kekasih saya. Rencana ini sudah saya siapkan jauh-jauh hari. Uang panainya sudah saya tabungkan sejak lima tahun yang lalu. Pokoknya, saya siap nikah dengan perempuan yang paling saya damba.
Tapi sayang, rencana cinta itu terhalang corona. Perusahaan tempat saya bekerja kena imbasnya. Berujung saya kena PHK. Tidak itu saja. Uang panai juga terpaksa saya pakai untuk modal jualan, dan beli bahan makanan yang kian menipis. Terutama harga beras yang kian hari harganya makin ngeri.
Akhirnya saya putuskan untuk menunda waktu bertemu keluarga Wa Kalambe. Alhamdulillah, pujaan hati saya bisa mengerti. Tapi bapaknya, tidak. Kakeknya apalagi. Bapaknya kemudian melarang cinta kami. Katanya, saya bukanlah lelaki yang punya masa depan cerah. Kakaknya juga sempat nyinyir di Facebook: "Apa ji La Anu itu, motornya Supra lama, bukan Kawasaki Ninja."
Remuk hati saya, Min. Kayak Baruasa direndam air panas. Bayangkan mi bagaimana hancurnya? Ini hati kasian, bukan kaleng-kaleng.
Kemarin malam, Wa Kalambe menelepon. Ia ngotot menikah dengan saya. Dan merencanakan kawin lari. Saya kaget. Jujur, saya belum siap. Saya beritahu Wa Kalambe agar memberi waktu untuk berpikir. Dua hari.
Saya ceritakan perihal rencana kawin lari itu sama mamaku. Ia justru melarang keras. Tak beradat, tak beragama, katanya. Terus saya tanya pendapat beliau akan hasrat saya ingin lekas memutus tali bujang. Berhubung usia saya juga sudah lebih dari kepala tiga. Mama mendukung.
"Tidak baik lelaki kalau lama jomlo, Nak. Pikiran mudah dirasuki setan. Menikah mi, biar hatimu tenang," nasihatnya.
Terbaik memang mamaku. Di saat teman-temanku di pangkalan cuma tahu bully tanpa solusi, Mamaku kasih jalan terang yang pasti.
Sebenarnya mamaku setujui saya menikah dengan siapa saja. Tapi... dari rona matanya, mama sepertinya lebih memilih Wa Jaenuru.
Wa Jaenuru adalah sahabat kecil saya. Ia dekat dengan mamaku. Piawai menetas kutu-kutu mama di selasar rumah. Ia juga kerap membantu mama di dapur. Maklum, rumah saya dan Wa Jaenuru berjarak sepelemparan batu.
Tempo hari, mama pernah lepas ucap kalau Wa Jaenuru diam-diam memendam cinta pada saya.
Sejujurnya, saya tak punya rasa sama Wa Jaenuru. Di dada saya, semata berdegup nama Wa Kalambe. Lamun, pendapat ayah terdengar lebih masuk akal. Ketika saya bercerita tentang rencana melamar Wa Kalambe, ayah memberi beberapa pertimbangan. Tentang keluarga kami yang tak berpunya. Tentang keluarga Wa Kalambe yang kaya raya. Tentang keluarga kami yang rakyat jelata. Tentang keluarga Wa Kalambe yang bernasab raja-raja. Tentang keluarga kami yang makan saja susah. Tentang keluarga Wa Kalambe yang bilang apa saja, tinggal gesek langsung ada. Saya dan Wa Kalambe laiknya petala langit dan dasar sumur umum Nganganaumala. Jauh.
Sedangkan Wa Jaenuru, kata mama, keluarganya sederhana. Sekufu dengan keluarga saya. Ibunya juga telah lama bersahabat dengan mama saya.
Min, ini pertanyaan saya: apakah saya harus memenuhi keinginan Wa Kalambe untuk kawin lari? Ataukah saya ikut isyarat kedua orang tua saya?
Dari jomlo yang didera prahara cinta.
La Rengge
Penulis : La Anto
Nokesa kaburi aini bosu
BalasHapusSiap, makasi, Bosku.
Hapus