Menjadi Ayah yang Memesona



Ada berita menyedihkan saya tonton sekilas saja tadi siang di kanal Youtube. Sekilas, nurani saya berusaha menolak kenyataan dari reportase itu. Saya berharap itu tidak benar-benar terjadi. Seorang anak SD dibunuh kawannya sendiri. Mayatnya ditemukan mengapung di sungai Kapuas dua hari kemudian. Satu tragedi pilu yang harus ditelan mentah-mentah oleh kemanusiaan kita.


Anak-anak zaman sekarang semakin brutal  saja. Dibanding masa-masa yang dulu, didikan orang tua masyhur dengan kekejaman. Sesediki dapa kayu bakar, rotan dan selang. Tapi, didikan itu tidak sampai menjadikan anak-anak tempo dulu sampai begitu tega membinasakan kawan sendiri.


Malahan kalau berkumpul, yang jadi bahan cerita itu  tentang bekas pukulan di badan, siapa yang paling besar, yang paling sakit dan paling kentara bekasnya. Ikatan persaudaraan mereka menyatu erat akibat luka yang sama. Hasilnya, lihat saja orang tua kita sekarang. Mereka sukses, berhasil dalam hidup karena tempaan itu. Ya, meskipun ada juga yang masih biadab sih.


Sekarang, saya rasa anak-anak semakin liar dan brutal. Keakraban teman sepermainan dalam satu lingkungan tidak terjalin seperti dahulu. Mereka hidup masing-masing dengan gawai di tangan. Entah apa yang diserapnya. Walaupun moderen, mereka tumbuh di dalam lingkungan kebiadaban moral yang luar biasa. Saya tidak tahu bagaimana anak-anak itu bisa terpapar barbarianism. Saya yakin ini tidak jauh-jauh dari asupan yang ia dapat dari lingkungannya. Apa yang ia lihat sehari-hari, sehingga terinspirasi melakukan aksi tragis itu. Ada yang tidak benar dari pola asuh para orang tua zaman sekarang.


Kita dulu, kalo main baret-baret terus baku tengkar, palingan berkelahi, menangis, pulang, lapor mama, didobol hantam lagi, selesai. Besoknya memang tidak baku teman. Tapi lusanya sama-sama lagi pi lempar asam sama mangga balanta. Baku teman lagi. Siklusnya taputar-putar begitu ji. 


Saya teringat ketika masih pake baju putih merah. Saya bersama kawan-kawan sekolah berniat mo pi pukul anak-anak Baadia di benteng Keraton Buton. Saya tidak tahu apa alasan dan dosannya anak-anak itu. Pokoknya kita mau pergi pukul saja. Titik. Sampai di lapangan Baadia, ternyata mereka besar-besar badannya. Baku campur dengan anak kelas 6 dan SMP.  Eh taina ngona e!


Kita sudah baku lihat ini. Mereka juga sudah curiga. Kalo rombongan ala Genji begini pasti mo baku hantam. Satu dari mereka yang besar badannya datang menghampiri. Dia bilang, "Eh korang mo bikin apa disni?". Dia bilang begitu sambil pasang muka sangar. Dalam hatiku: "Kaogena mia siy e (besarnya anak ini), anak kuliah ini la anu ini. Kaka-kaka." 


Temanku yang paling jago di antara kami, langsung maju ke depan. Saya kira da mo lot duluan mi. Eh malah dia bilang sambil rengku, "Kita mo tanding bola ini. Komorang cukup kah?"  


Salah seorang dari kubu sebelah  tak mau kalah: "Sini mi, biar kita lapan orang saja, komorang semua nda apa mi. Kalau perlu panggil dengan nenek-neneknya kalian main bola," serunya sambil cekikikan. 


Waktu itu saya dan kawan-kawan ber-empat belas. Ini namanya panda ente (Meremehkan lawan). Ta tidak terima e. 


Akhirnya, yang tadinya berniat mau tawuran, berakhir sport endingPertandingan sepak bola dimulai Kami menggocek bola dengan semangat dan dada yang dibakar emosi. Sebelas orang anggota kami berlari membabi buta mengejar bola. Di mana ada bola, di situ kami berkerumun. Di mana kami berkerumun, di situ kadang tidak ada bola. Dan benar saja, hasil tidak pernah menghianati usaha. Skor akhir pertandingan  11-0.  Tentu saja mereka yang menang. Secara mereka adalah langganan juara satu pertandingan bola. Hasil klasemen berturut-turut: Baadia, Wameo, baru kita orang anak-anak Pimpi yang tinggal tepat di bawah kaki Benteng Keraton Buton.


Ya, skornya memalukan. Bagaimana tidak mo kalah, seharusnya taktik, strategi dan formasi yang diubah-ubah, eh ini malah kiper terus yang diganti. Setiap gol, ganti kiper. Gol lagi, kiper yang dimaki. Sepertinya kiper yang paling berdosa. 


Walaupun kalah, kita jadi berteman sama mereka. Sepanjang permainan mereka tertawa melihat gaya main kami yang suka baku marah sesama tim. Dari situ, kita baku kenal-kenal. Akhirnya kalo kita naik ke Baadia, tidak takut lagi dipukul anak-anak di sana. Pada masa itu kita tidak tahu cara bunuh orang. Yang kita tahu cuma gertak, lempar habis itu lari. Memang sudah ada busur, tapi hanya untuk papahanda (kasi kaget-kaget) saja.


Berita kenakalan anak di awal tulisan ini saya yakin akibat pola asuh yang mengingkari keberadaan zaman. Pada zaman khulafaur rasyidin, Ali bin Abi Thalib menasehati: "Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya. Karena mereka akan hidup pada zaman yang berbeda denganmu." Petuah ini sangat relevan hingga saat ini. Karena tantangan yang dihadapi anak-anak berbeda, maka pola asuh juga harus berubah.


Di zaman digital ini, apa yang kita maukan tinggal main pijat. Eh beda lagi maknanya itu, pijit maksudnya. Kita merdeka, berdaulat, adil dan makmur serta sehat sentosa untuk mengakses segala macam hal.  Anak-anak kalau main lepas saja bisa jadi mangsa atau predator. 


Orang tua harus memerhatikan ini. Tidak boleh lepas kendali di tengah merebak dan meluasnya konten-konten di jagat maya yang dapat memengaruhi tumbuh kembang anak. Jangan biarkan anak liar menentukan karakternya sendiri. Tuntun mereka menjadi yang terbaik bagi dirinya dan manusia lainnya.


Dari sini saya jadi paham mengapa dulu sering dipukul kalau tidak tidur siang. Supaya main-main tidak kelewatan. Supaya potensi baku kles dengan teman tidak terlalu besar.


Masih kekal dalam ingatan, waktu membaca satu artikel bagaimana Rasulullah Muhammad SAW sebagai suri teladan memberi wasiat tentang cara mendidik. Pada tujuh tahun pertama perlakukan anak seperti raja. Pokoknya sayangi, hormati, ikuti maunya, layani bae-bae. Asal, jangan sampe ko sembah. Bisa terkena pasal menyekutukan.


Pada tujuh tahun kedua, perlakukan ia sebagai tawanan. Borgol dia seperti tahanan perang. Anggap dia seperti Ted Bundy yang berbahaya bagi populasi manusia. Pokono jang kasih ampun. Kalo da macam-macam jang ko simpan, libas. Istilah sekarang, PSBB dan PPKM harus diterapkan dalam hidup mereka. Hehehe, bagian ini rada lebai. Intinya, jangan sembarang turuti maunya. Perketat segala tindak tanduknya.


Seperti Assabiqunal Awwalun, Umar bin Khattab mengatakan: "Tegas tanpa menampakkan kekerasan. Dan lembut tanpa menunjukan kelemahan." Anak-anak SD di atas, saya rasa sudah masuk tahap kedua ini.


Tahap terakhir, di tujuh tahun ketiga, perlakukan ia seperti seorang teman. Jalin komunikasi yang baik dengan mereka. Jangan biarkan mereka mencari solusi di luar. Dampingi dan dukung apa yang menjadi cita-cita mereka. Orang tua harus menjadi sahabat anak dalam menumpahkan semua keluh kesahnya.


Tulisan ini sekadar teori ji. Saya belum masuk pada level praktikum. Baru beberapa bulan saja mendapat predikat sebagai bapa-bapa. Belum banyak merasakan asam garam menghadapi anak yang rewel, rese, bawel, sakit, nakal, proaktif, manja, pemberontak, kapatuli, bera di celana dan lain sebagainya.


Tapi saya harus tetap belajar. Selain dari orang tua, saya juga mencari banyak referensi, metode, dan pedoman bagaimana mendidik anak. Ada yang bilang, mendidiklah dengan tindakan bukan dengan kata-kata. Action speak louder than words. Didiklah anak dengan memberi contoh. Suri teladan. 


Belajar tidak pernah mengenal kata berhenti, Bosku.


Tuntutlah ilmu dari bue-bue sampai ke balik papan, pernyataan ini menandai ujung tulisan saya. Sekaligus, menegasikan pepatah purba: tuntulah ilmu sampai ke negeri Cina.


Penulis: Anggoro haris
(jurnalis foto dan seseorang yang sedang belajar menjadi ayah yang memesona)

1 komentar:

Pages