Berkat racikannya, Indomie menjadi salah satu mie instan favorit di Indonesia. Karena kefavoritannya itu lah, sampai-sampai kalau orang-orang mau membeli 'mie sedap' misalnya di warung, mereka tetap akan bilang: "Beli...beli Indomie sedap dua bungkus."
Indomie tak hanya favorit Indonesia, masyarakat global pun tak sedikit memuji kualitas rasanya. Dan kini, Indomie telah dipasarkan di 80 negara di seluruh dunia seperti Australia, Selandia Baru, AS, Kanada, di seluruh Asia, Afrika, Eropa, dan negara-negara Timur Tengah. Wow, luar biasa.
Ngemeng-ngemeng, saya yakin masing-masing dari kita punya cerita tentang Indomie. Seperti kisah bungkus Indomie yang bergambar paha ayam, telur setengah matang, dan aneka sayuran, pas dibuka ternyata zonk. Gambarnya tak nyata, paha ayamnya tak ada. Atau cerita pada momen eksekusi di dapur. Saat air di panci sudah meletup-letup, lantas kemasannya dibuka, Indomienya dimasukkan ke dalam rebusan air, eh ternyata bumbunya tidak ada. Ehh da sakit kasian!
Cerita lainnya adalah bagaimana ini barang sangat intim dengan kehidupan mahasiswa dan kos-kosan. Mahasiswa memang identik dengan kehidupan yang sulit. Memang seperti itu lah mahasiswa dalam alam pikir masyarakat. Ada dulu teman-teman kuliah yang kalau kehabisan uang kadang-kadang pergi makan di acara pernikahan, pura-pura sebagai tamu dengan bermodalkan baju batik, celana slimfit, dan sepatu fantofel. Kalau sepi acara, ya jatuh-jatuhnya beli Indomie. Di samping harganya yang grow it, mendapatkannya juga sangat mudah dan tak mengenal tanggal tua.
Keinstanannyalah yang membuat hubungan mahasiswa dan Indomie punya chemistry tersendiri. Makanan ini begitu ramah, tinggal rebus, masukin telor jika ada, langsung santap. Kenyang deh. Kendati pun ada info-info kesehatan agar kita tidak disarankan untuk terlalu sering mengonsumsi mie instan karena banyak pengawet dan kandungan gizinya minim. Namun, terkadang hal-hal semacam itu jadi pertimbangan kesekian, karena faktor tugas-tugas yang menumpuk juga waktu yang padat dengan proses perkuliahan.
Bahkan ada teman dulu mengungkapkan rasa terima kasih di halaman pengantar skripsinya: "Terima kasih yang sebesar-besarnya juga buat Indomie yang telah menemani saya dalam menyelesaikan skripsi ini". Kalau Indomie ini berjenis kelamin cewek, mungkin bakal dikawini, Bosku.
Selanjutnya mengenai penyajiannya, makan mentah Indomie adalah kudapan paling endul sepanjang masa. Saya pastikan kita bersepakat tentang paket mentah Indomie ini. Tak peduli munculnya kumbi-kumbi di betis karena (katanya) faktor kandungan MSGnya. Terkadang sajian ini dihidangkan dalam sebuah lingkaran anamuda. Ada botol Aqua di tengah dan beberapa bungkus Indomie yang dijadikan sebagai cubit-cubitnya. Ganaaas!
Ada juga penyajian Indomie yang khas Baubau sekali. Entah resep muasalnya terinspirasi dari chef siapa. Adapun penyajiannya adalah menyandingkan Indomie rebus dengan kelor, Bosku. Wah, mulai terbayang kan bagaimana sensasi rasanya? Apalagi jika dikolaborasikan dengan nasi hangat, ikan kering, dan lombo sedikit. Disantap saat tanggal tua. Wow...rasanya dijamin membuat Anda lupa cicilan di koperasi.
Nah, mengenai Indomie dan kelor ini, saya berharap semoga muncul pengganti mendiang Ibu Nunuk. Yang bisa meracik bumbu dan memadukannya dengan sayur kelor sampai akan muncul varian Indomie baru: "Indomie Rasa Kuah Kelor". Tentunya produk ini akan jadi best seller di Pulau Buton.
Penulis : Om Ven
Gambar: resepmasakanbook.blogspot.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar