Duka sedang melanda bangsa. Bak ujian yang bertubi-tubi dari Sang Pencipta. Di tengah-tengah pandemik yang entah kapan akan berakhir, kita tersentak dengan berbagai musibah dan bencana yang melanda negeri ini. Belum mengering air mata atas peristiwa nahas Sriwijaya Air SJ 182 yang memakan korban 62 jiwa, tanah longsor di Sumedang yang menguburkan 24 raga tak berdaya, juga 16 lainnya entah terkubur di mana, kita dikejutkan kembali dengan kabar banjir bandang di Kalimantan Selatan dan gempa bumi di Sulawesi Barat yang mengguncang tanah celebes. Membuat semua makin nestapa.
Dari bencana yang terakhir sampai tulisan ini diterbitkan, sudah 34 korban jiwa yang meninggal dan ratusan lainnya masih dalam pencarian. Semua seakan tak berdaya melawan ganasnya amukan tanah yang bergoncang dahsyat hingga memorak-porandakan bangunan-bangunan megah yang dibangun dengan dana milyaran. Pekik histeris dan tangis meratap kencang seakan menambah histeria di seluruh penjuru kota dari mereka yang sedang menggali puing-puing dan reruntuhan bangunan untuk mencari sanak saudara yang masih tertimbun.
Sebagai manusia beragama, kita pasti percaya bahwa Yang Maha Kuasa mungkin memberi jeda kita untuk sedikit merenung. Kita seolah diberi pertanda bahwa bisa jadi negeri ini tidak sedang baik-baik saja. Apalagi dengan wafatnya Syech Ali Jabber seorang ulama kharismatik pemersatu bangsa dengan akhlak mulia dan tutur kata yang lembut. Makin mengamini semua prasangka-prasangka yang terbesit. Adakah kita yang tidak tersadar dari semua persitiwa ini?
Fenomena munculnya ikan lompa dipermukaan kemarin, tampaknya bisa menjadi pembenar bagi mereka yang percaya tentang adanya pertanda yang muncul sebelum adanya peristiwa-peristiwa di atas. Apalagi seturut dengan itu, tanah amblas di Katobengke dan terbakarnya gedung atlet di Stadion Betoambari seakan menguatkan kepercayaan itu semua.
Mengaitkan sebuah fenomena dengan bencana dan musibah memang boleh-boleh saja, namun kita semua harus berpikir rasional bahwa segala peristiwa itu mempunyai penyebab langsung yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Faktor-faktor penyebab dari peristiwa-peristiwa itu harus kita cari tahu dan pelajari sebagai bekal pencegahan yang efektif agar tidak terjadi kembali bencana-bencana yang bisa menelan korban jiwa lagi.
Berkaitan dengan duka yang melanda negeri ini, ada hal yang sangat mengganggu nalar dan emosi. Ialah mereka yang memanfaatkan momen-momen musibah dan bencana ini sebagai jalur pansos untuk meraih kepopuleran. Seakan-seakan empati hanyalah sebuah content segar untuk mendatangkan popularitas dan cuan. Picik sekali pikiranmu, Bosku.
Dari data dokumentasi yang tersebar di media sosial setelah peristiwa musibah-musibah di atas, banyak sekali bermunculan pegiat-pegiat medsos yang kurang tahu diri.
Mulai dari membuat meme-meme yang tidak etis, hingga berselfie ria dengan latar TKP bencana. Juga yang sangat tidak disadari, mereka yang membuat livestream pada saat peristiwa terjadi ketika para korban sedang berjibaku menyelamatkan diri dan keluarga dari bencana.
Wooee, Bosku.
Sudah-sudah mi main medsos kalau kamorang tidak mengerti arti empati. Apalagi hanya untuk mengangkat citra diri dan eksistensi akun medsosmu di balik duka dan simpati orang lain. Tidak bisa kah ko taruh itu handphone mu, tolong itu korban. Haddeeehh. Emosi memang kalau lihat hal-hal seperti ini.
Mendokumentasikan momen penting itu memang tidak ada larangan dan juga baik untuk beberapa kasus. Tapi, empati yang menjadi dasar sebagai acuan untuk kita melakukan hal prioritas dalam bertindak adalah yang utama. Masa orang sudah sekarat, tapi ko hanya sibuk livestream pake muka sedih lalu bicara gaya reporter televisi ternama. Ko tidak malu-kah bosku?
Tidak kalah kurang ajar mereka yang membagikan berita hoax di saat kepanikan dan juga trauma yang sedang menggerogoti para korban dan keluarga. Contohnya seperti kasus Sriwijaya Air kemarin, yang katanya ditemukan korban bayi yang selamat. Tapi ternyata, itu korban dari peristiwa tenggelamnya KM. Lestari Maju. Kemudian video diangkatnya bangkai pesawat yang katanya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 padahal itu pesawat dari maskapai Turki. Adalagi video detik-detik meledaknya pesawat, yang diketahui belakangan merupakan peristiwa turbulensi pesawat Etihad Airways saat terbang dari Abu Dhabi ke Jakarta tahun 2016 lalu.
Kamorang-kamorang penebar hoax di saat bencana ini, masih ada hatinya kamorang ka? Kamorang tidak pikir bagaimana perasaan keluarganya mereka yang bahkan menangis saja seakan-akan air mata itu sudah kering mi. Bagaimana harapan mereka akan adanya keajaiban. Lalu kamorang tambah-tambah kasih harapan dengan berita hoax. Kamorang tidak pikir ka bagaimana perasaan mereka setelah tahu kabar yang sebenarnya? Jahat sekali itu, Bosku.
Ada saatnya seseorang berada di titik terendah hidup ini, entah itu berupa kegagalan atau bencana yang menimpa seperti saat ini. Hari ini mungkin saudara kita yang mengalami, tapi siapa yang tahu bahwa besok adalah giliran kita. Hidup hanya masalah waktu yang berputar dan jiwa yang mengantri pada takdir yang menanti.
Jadi bosku...
Jika bantuan tenaga dan materi tidak bisa kita berikan, saya rasa semua dari kita mampu untuk sejenak mengangkat tangan dan berdoa agar kebaikan selalu menyertai negeri ini dan ketabahan selalu menaungi hati keluarga yang ditinggalkan. Amin.
Hal itu tidak akan mengurangi followersmu di media sosial, Bosku.
Tapi jangan juga ko fotokan dirimu lagi berdoa lalu upload dengan caption #prayforindonesia. Singkama jhee.
Penulis : Ade Nyong
Tidak ada komentar:
Posting Komentar