Berikan Aku 10 Mahasiswa, Kan Kuperas Penjual Makanan. Mahasiswa Ko, Bos?



Berikan Aku 10 Mahasiswa, Kan Kuperas Penjual Makanan. Mahasiswa Ko, Bos?

Menafsir kata "Mahasiswa" adalah hal yang susah-susah gampang. Yang ditemukan mungkin tak ada makna yang seragam. Orang yang selalu menghabiskan waktunya di depan saluran berita-berita televisi, mendengar kata "Mahasiswa" hal yang pertama muncul di kepala adalah demonstrasi. Pemilik kos-kosan dekat kampus jika mendengar kata "Mahasiswa", mungkin saja dikonversi sebagai cuan sebab ini menyangkut target marketnya. Nah bagaimana dengan mahasiswa sendiri menerjemahkan kata itu? Yang jelas, mahasiswa itu tak sebatas celana jeans dan sepatu Converse. Ada selabel pride di balik logo almameter kampus di dada.


Setahun ini, pandemi seperti menjadi musim. Sistem perkuliahan berubah bentuk dari kuliah tatap muka menjadi tatap layar (belajar daring) hingga hari ini. Mereka yang harus berususan dengan tugas akhir dan wisuda pun harus mau tak mau dicap sebagai “sarjana corona” kendati tidak terselenggaranya kelas dan pertemuan langsung dengan dosen. Perkara "sarjana Corona" ini pun membuat motivasi wisuda mahasiswa semakin ikut surut. Hal ini turut dirasakan oleh sebut saja namanya La Alfred. Seorang mahasiswa rantau, sudah semester akhir yang berkuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di sebuah kota kecil dan sedikit kejam, tahu ah gelaaap!


Selama masa pandemi, dirinya merasa kehilangan semangat belajar. Baginya, kuliah daring tak bisa menajamkan daya nalarnya ketika harus menyimak teori kuliah dari pak dosen yang kadang terputus-putus disebabkan koneksi jaringan yang ngadat. Yah boleh dibilang dirinya masuk tipe mahasiswa yang kritis. Hal ini tak terlepas dari sepak terjangnya keluar masuk di lingkaran organisasi. Lantas mengantarnya ke ruang-ruang diskusi yang mewajibkan ia untuk melahap buku-buku filsafat, sejarah dan teori-teori ekonomi konvensional hingga posmo.


Bukan hanya di ranah akademik, di ranah ekonomi pun La Alfred merasa susah bukan kepalang. Jatah bulanan dari kampung tak secerah wajah glowing boy band Korea. Sebagai mahasiswa kritis, dirinya sadar keadaan ini adalah sedikit dampak dari pandemi. Di sela-sela diskusi dengan beberapa rekannya di sebuah warung kopi, ia berceloteh:


"Wajar ji pandemi berefek pada resesi. Jangan kan Indonesia, Cina, Eropa dan Amerika saja tahengke-hengke hadapi Corona. Makanya kita ini mahasiswa sebagai social of control, harus menggunakan kepala kita untuk berpikir dan bergerak mencari solusi agar masyarakat tetap baik-baik saja." 


Sampai pada suatu waktu, tekanan gaya hidup membuat La Alfred melakukan tindakan di luar batas kewajaran. Kecerdasan Intelektual tak selamanya berbanding lurus dengan kecerdasan emosional. Atas nama mahasiswa, bersama rekan-rekannya, ia memeras pemilik rumah makan. Modusnya dengan memperlihatkan video makanan yang terdapat cacing dari layar gawai kepada pemilik rumah makan. Setelah video itu selesai, ia memberi pesan dengan sedikit nada ancaman:


"Ini video dari rumah makannya kita, Pak. Ini bukti bahwa rumah makan ini tidak steril dan tidak layak. Jadi kalau mau video ini tidak viral, yah kita atur mi saja bae-bae, Pak. Saya kira 15 juta ini bisa aman mi, Pak," tuturnya sembari tersenyum licik.


Wow...

Sepicik itukah menyiasati perubahan hidup? Sedangkal itu kah makna mahasiswa? Akan banyak muncul jejeran pertanyaan lain yang arahnya akan mengutuk tindakan La Alfred. Memang, tindakan La Alfred ini tak sebrengsek apa yang dilakukan oknum pejabat yang menyunat dana bansos yang berjumlah sampai di angka milyar.Tindakan  pemerasan kepada pemilik rumah makan adalah radang. Bisa saja ini menimbulkan peluang terjadinya pemerasan kepada negara di tahun-tahun mendatang.


Dan tentang makna 'mahasiswa', saya pikir banyak teman mahasiswa di luar sana yang masih menjaga pride dari status mahasiswa seperti yang sudah saya singgung di awal tulisan ini. Masih ada yang bergerombol turun ke jalan, tak mengenal lelah dalam menebar kebaikan. Contohnya mahasiswa yang membagi diri secara berkelompok terlibat dan berkontribusi dalam aksi penggalangan dana untuk korban bencana alam, pengobatan masyarakat yang tidak mampu, aksi bagi-bagi masker di masa pandemi, dan aksi-aksi baik lainnya.

 

Jangan kira karena nila setitik yang dicelupkan La Albert, rusak susu sebelanga yang diperas mahasiswa sejak dulu kala. Salah, Bosku. Mahasiswa akan terus ada untuk kerja-kerja kemanusian dan pengabdian kepada rakyat.


Hidup mahasiswa, panjang umur kebaikan.


Penulis: Om Ven

Sumber gambar: Mancode.id


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages