![]() |
| Ketgam: suami dan anak Wa Ode Hasmia Abdullah |
"Kenapa cuma ambil satu pelampung? Bagaimana dengan kamu dan anaknya kita?" Aku hanya melihat suamiku terdiam dan menatap gulungan ombak yang semakin membesar. Ia sepertinya sudah siap dengan kemungkinan terburuk. Kapal Feri sudah terombang ambing oleh gelombang dahsyat. Apa kami bisa selamat?
Sebelumnya, perkenalkan, namaku Wa Ode Hasmia Abdullah. Guru honerer TK. Usia 34 tahun, asli pulau Muna. Aku dan keluargaku adalah bagian dari penumpang KMP Tenggiri yang dihantam gelombang di perairan antara Waara dan Baubau.
Siang itu (Minggu, 14/2), sekitar pukul 14.00 Wita, aku, suami, dan anakku, mengendarai kuda besi bertolak dari kota Raha menuju Waara. Aku sedang hamil tua, dan berencana bersalin di rumah mertuaku di daerah Kanakea, Kota Baubau.
Sebenarnya, sebelum berangkat, aku sudah diingatkan oleh ayah dan kakak perempuanku untuk menunda rencana pergi. Berhubung langit saat itu tampak kurang bersahabat.
Tapi aku dan suami telah bulat tekad, "Bismillah" kami berangkat bermodal keyakinan dan doa.
Tibalah kami di Waara. Semua tampak baik-baik saja. Motor masuk KMP Tenggiri, kami ke ruangan atas untuk beristirahat. Hingga sekitar 20 meter meninggalkan dermaga, langit mulai menghitam pekat. Hujan turun rintik-rintik disapu angin yang berembus kencang membuat jarak pandang mata kian terbatas. Pulau Makasar dan Baubau samar terlihat. Ombak mulai membesar, menggulung dan menghantam badan kapal. KMP Tenggiri mulai oleng ke kiri dan ke kanan.
Penumpang terlihat panik. Ada yang sesenggukan menangis, ada yang menyebut asma Allah, ada yang berdoa meminta pertolongan. Beberapa penumpang mulai mengambil pelampung yang disediakan kapal. Termasuk suamiku. Beberapa orang tampak berdesak-desakan berebut rompi keselamatan itu.
"Jangan berkeliaran! Duduk saja! Hey, pelampungmu itu tidak bisa menolong. Minta saja kepada Allah," teriak seorang bapak.
Seperti yang telah kuceritakan di awal paragraf, suamiku hanya mengambil satu pelampung. Saya tak habis pikir. Jumlah kami tiga, kenapa cuma ambil satu. Gelisah bercampur marah menyeruak dalam hatiku.
"Sebenarnya saya bisa ambil lebih dari satu pelampung, tapi saya ingat banyak orang tua dan anak-anak yang lebih membutuhkan," kata suamiku pelan.
Aku hanya bisa menatapnya sembari menggumam dalam hati. "Kenapa kamu bodoh sekali."
Tapi aku tiba-tiba tersadar, bahwa suamiku yang sederhana ini, masih mementingkan keselamatanku, dan keselamatan orang lain, dibanding keselamatannya sendiri. Tak terasa air mataku jatuh menganaksungai di pipi. Aku teringat kesalahan-kesalahanku padanya. Oh, betapa berdosanya aku selama ini.
"Tenang mi, saya jago berenang. Kamu tidak usah panik," ucap suamiku sembari melepas kedua sepatunya. Ia kemudian merangkul pundakku. Seakan mengerti kalut yang menggores di wajahku. "Pakai baik-baik ini pelampung."
Ia kemudian duduk di samping jendela. Menggendong Reva (4 tahun), anak kami yang sore itu tidak mengerti kondisi apa yang tengah terjadi.
"Ayah...ombak besar k ini? Kita mandi-mandi hujan e," begitu celotehnya.
Sementara kondisi kapal semakin mencekam. Doa-doa membumbung ke langit dengan suara yang keras, kian memelas. Alam masih menunjukkan amukannya. Gelombang hilir mudik menghantam lambung kapal. Para penumpang semakin histeris.
Aku hanya bisa pasrah, berdoa, dan sesekali mengelus perutku. Apakah ini akhir dari hidup kami?
Tak berselang lama, pulau Baubau tampak jelas. Pelabuhan Feri kian jelah terlihat. Doa-doa yang terapal itu terijabah di langit sana.
"Alhamdulillah," beberapa penumpang mengucap syukur. Semua tampak bahagia ketika kapal KMP Tenggiri sebentar lagi sandar di pelabuhan.
Kami tak memedulikan lagi hujan yang mengguyur ketika motor keluar dari kapal. Kami menerabas hujan yang luruh deras dari langit Baubau.
Tiba di rumah, kami bersih-bersih, dan segera merunduk salat dan berdoa. Betapa dekat jarak kematian dalam helaan napas manusia.
Di mana saja kamu berada, kematian pasti akan menghampirimu, meskipun kamu berlindung di dalam sebuah benteng yang sangat tinggi dan kokoh. (Q.S An-Nisa’: 78)
Penulis: La Anto
(Dikisahkan dari hasil wawancara dengan Wa Ode Hasmia Abdullah, salah satu penumpang KMP Tenggiri)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar