Karena ada beberapa jadwal aktivitas yang saya lakukan di luar rumah, saya coba mencari tahu tentang prediksi cuaca untuk hari ini di instagram BMKG kota Baubau. Yang di awal tahun 2021 ini, akun itu mulai memposting prakiraan cuaca perharinya. Jadi, tentu saja informasi itu sangat membantu kami. Tertulis di postingan tersebut, hanya kecamatan Bungi yang aman dari hujan untuk hari ini. Sayangnya pergerakan saya hari ini tidak melintasi daerah tersebut.
Tapi, tulisan ini tidak sedang membahas tentang prakiraan cuaca yang terkadang membuat patah hati. Yaahh namanya juga ramalan, bisa benar, bisa juga tidak. Ibarat seorang gadis yang sudah dijanjikan mahar, ternyata yang datang surat undangan dari lelaki yang dicintainya. Jangan ko tiru itu, Bosku.
Nah, ada satu kejadian menarik yang membangkitkan memori saya saat hujan deras siang tadi. Ketika hujan mengguyur keras, dari arah jalan raya depan rumah, tampak anak-anak yang sedang mandi hujan dengan riang gembira. Berlari-lari dan memperagakan gaya khas masing-masing. Entah apa yang sedang mereka mainkan. Permainan mereka terhenti sejenak saat suara seorang emak-emak menggelegar mengalahkan suara hujan deras itu.
“La Mangada eee (sebut saja namanya demikian), ko masuk cepat, masuk. Kencingnya setan itu, nanti ko sakit!”
Sontak, kalimat yang dilontarkan emak-emak muda itu, membuat saya teringat masa kecil dulu. Sama dengan anak itu, saya juga saban diteror oleh mitos-mitos ketika hujan turun. Mirip sekali dengan yang terjadi pada La Mangada barusan. Saya pikir, mitos itu sudah punah di zaman Kpop ini. Tapi ternyata mitos tersebut tidak tergerus oleh waktu. Tetap bertahan walau ekspansi goyangan tiktok telah menguasai gerak-gerik mereka. Sampai sekarang saya tidak mengerti mengapa air hujan dikonotasikan sebagai air kencingnya setan. Ada kah yang pernah mengintip dan menelaah proses keluarnya kencing pertama itu? Luar biasa memang tipu-tipunya.
Nah, mitos yang disebut tadi, bukanlah satu-satunya mitos tentang hujan yang pernah saya dengar di kampung halaman. Dahulu, ada satu mitos tentang hujan yang sangat sakral nan menyeramkan. Dan sudah pasti tidak satu pun dari kami bocah-bocah lugu, berani melanggarnya. Yaitu, mandi hujan di saat matahari masih terik menyinari. Alias mandi hujan panas. Konon katanya, itu hujannya orang meninggal. Ngeri Kuneee.
Uniknya, mancuana (baca: orang tua) zaman dulu, bisa mengidentifikasikan usia orang yang meninggal berdasarkan waktu turunnya hujan tersebut. Jika hujannya di pagi hari, berarti yang akan meninggal adalah anak kecil. Jika terjadi di siang hari, sudah dipastikan bahwa korbannya adalah anak muda. Sedang jika hujan panas itu turun di sore hari, orang tua yang akan menjadi korban. Hebatnya lagi, perkataan mancuana ini seolah menjadi fatwa yang begitu dipercaya dan pantang untuk diremehkan.
Ada juga mitos tentang hujan yang sangat menggelikan. Tapi tetap saja dilakukan oleh segelintir orang zaman dulu. Mitos tersebut ialah melempar kolor atau celana dalam di atap rumah untuk meredakkan hujan. Hahaha.
Lucu memang mitos yang satu ini. Tapi ada saja orang yang percaya dan bahkan melakukannya. Mitos ini biasa dilakukan ketika hujan turun bertepatan dengan hajatan yang sedang berlangsung. Biasanya sih acara pernikahan.
Saya masih ingat sekali, ketika hujan turun di saat pesta pernikahan om dan tante sedang meriah. Tetiba ada yang panik dan teriak, “cepat mi lempar celana dalam di atap”.
“Celana dalam pengantinnya itu boleh, laki-laki dengan perempuan,” Yang lain ikut memotong.
“Cepat mi, sebelum dia besar ini hujan,” Tim penyemangat menyorakki dengan penuh harap.
Tidak habis pikir memang, tapi itu benar-benar terjadi dan sangat dipercaya di zamannya. Entah apa kaitan antara kolor dengan hujan yang reda. Apa karena isi-nya menakutkan hujan? Hehehe. Entahlah.
Sekarang, mitos-mitos itu perlahan menghilang dengan sendirinya seiring dengan berjalannya waktu. Sumber informasi dan pengetahuan yang begitu mudah diakses, semakin menenggelamkan kepercayaan-kepercayaan yang susah diterima oleh akal seperti itu. Pada akhirnya, mitos-mitos itu hanya menjadi cerita dan alat untuk menakuti bocah-bocah lugu yang mudah terserang penyakit seiring datangnya musim penghujan.
“Mama ini eee, kemarin saya lihat mama juga mandi dengan kencingnya setan,” La Mangada menyela.
“Kencing setan yang mana?” tanya Mamanya La Mangada mengelak.
“Itu yang di drum,” La Mangada berkata sambil menunjuk drum penampung air yang terletak persis di bawah tirisan atap.
“%#^$&*((%###%%” Mamanya La Mangada syok. Mengeluarkan sumpah serapah yang tidak etis saya tulis di sini.
Penulis: Ade Nyong
Sumber gambar: Cianjurpedia.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar