Pasca Juara, Mungkinkah Wa Ode Dimainkan dalam Sinetron Azab?

Malam tadi, keputusan telah diambil polling sms telah bulat dan menyatakan bahwa Wa Ode Heni Andraini asal Baubau dinyatakan sebagai juara Pop Academy Indosiar. Di hadapan juri, orang tuanya, serta ribuan pasang mata yang menyaksikan lewat semua media, setiap inci rasa telah padu. Yang tampak hanya tetes air mata haru. Bukan saja oleh Wa Ode, namun semua penggemarnya. Malam tadi, (17/1) langit Baubau bergembira.

Sejatinya, juara tak ada yang begitu mudah. Proses tentu akan diperhadapkan oleh banyak riak, duri, hingga gelombang turun naik. Tak berbilang hari, proses karantina hingga prosesi grand final semalam tentu dilewati dengan penuh perjuangan. Momen demi momen di atas panggung juga adalah jalan panjang lelah, haru bahkan seru. Namun ini lah ciri khas program televisi dengan ikon ikan terbang itu, bukan?


Sebagai warga Kota Baubau, kita patut berbangga juga berbahagia dengan pencapaian ini. Bisa dibilang, momentum kejayaan anak muda Kota Baubau dalam ajang nasional pada beberapa tahun berturut ini, cukup membanggakan. Sejak fildan, Aco, hingga Wa Ode membuat banyak mata dan telinga akrab mendengar nama Kota Baubau.


Namun dalam benak saya, semalam justru bukan soal euforia kemenangan saja. Tapi, setelah ini apa? Bukan Indosiar namanya jika tidak mampu mengangkat rating televisi analog itu jika tidak dengan sesuatu yang viral. Stasiun tivi itu mungkin yang paling konsisten menurut saya dengan konten. Siang sinetron bahasa kalbu emak-emak dan malam musik dangdutan. Apalagi sematan bahwa, kemampuan akting itu nomor kesekian asal bisa menangis haru saja di depan tivi sudah cukup.


Lihat saja misalnya Fildan atau La Aco saat ini, saya mungkin menjadi lebih akrab sama mereka melalui serangkaian sinetron bertema bahasa kalbu emak-emak ketimbang hadir pada panggung tarik suara. Saya kadang berpikir, unik juga cara mencari talent stasiun tivi itu. Orang-orang akan diaudisi lewat kontes menyanyi, untuk di promosikan sebagai artis sinetron. Hal ini masuk pada hukum “viral” barangkali. Semua yang berkebalikan dengan yang lazim, akan lebih mudah diterima oleh publik.


Mestinya memang kita mahfum soal ini sih. Dalam era tivi berbasis analog, tentu rating atau jumlah penonton adalah penentu kapitalisasi industri televisi. Saya membayangkan para pendukung Wa Ode dan lainnya, akan menjadi penggemar terbaik yang siap 1 x 24 jam untuk duduk manis menonton sinetron bahasa kalbu emak-emak. Dan menontonya, bukan soal ceritanya, akan tetapi siapa yang main dalam sinetron itu.


Saya berpikir, masa depan Wa Ode akan tidak jauh dengan yang sudah-sudah kita amati pada stasiun tivi berlogo ikan terbang tersebut. Selain menyanyi atau mengisi program talk show, ia juga akan mulai mengisi ruang-ruang sinetron. Dan tentu saja, sinetron bahasa kalbu emak-emak sebagai komoditas utama tivi itu juga tidak kalah akan menampilkan wajah dan kepiawannya berakting. Atau mungkin, Wa Ode akan dimainkan dalam sinetron azab untuk membangkitkan muruah tayangan itu kembali?


Apa ini salah? Sebenarnya tidak juga. Namun, sayang saja. Biasanya dengan begitu semangat kita menyaksikan rupa Wa Ode yang ceria dan manis itu melengkingkan suara indahnya, lalu harus beralih dengan melihatnya pada adegan sedikit haru saat harus berakting menangis dan tertindas dalam sinetron bahasa kalbu emak-emak nanti. Kan jadi gimana-gimana gitu ya, Bosku?


Memang sih, efek pandemi pada industri televisi cukup signifikan. Utamanya pada stok film dan sinetron yang harus terhenti sementara diproduksi. Sehingga televisi akhirnya kembali memutar film atau sinetron yang lawas. Namun, keberhasilan Mas Arya dan Inggit dalam lakon My Lecture My Husband bisa berhasil selama dua bulan menjadikannya film series berbasis televisi digital begitu viral di media sosial. 


Film series ini hanya berpindah tempat, konten, dan cara mengemasnya ke publik saja. Tanpa perlu mengajak kita turut menyaksikan adegan menangis dan tertindas yang begitu perih. Saya pikir, ibu tiri manapun akan ikut insecure jika menyaksikan sinetron bahasa kalbu emak-emak ini. Dalam batinnya mungkin bergumam “Wah kalam usil sayanya mas”.


Tapi mungkin saja ini adalah bagian dari proses yang dibuat sedemikian rupa oleh Indosiar. Jadi wajar saja dalam setiap program kontes yang tayang, menyanyi bisa dibilang hanya menghabiskan 3 sampai 4 menit durasi. Tapi soal dramatisasi, bisa sampai 1 atau 2 jam. Menjadi kontestan bukan saja soal suara sih. Tapi ketahanan betis dan mental untuk berdiri dan diperlihatkan momen haru oleh deretan juri dan kerumunan pembawa acaranya.


Terlepas dari itu semua, Wa Ode telah menunjukkan kelasnya di hadapan semua orang. Juara hanyalah akibat, prosesnyalah yang menjadikannya ia hebat seperti hari ini. Harapannya saya, wajah Wa Ode tampil menyanyi saja atau paling tidak bisa sebagai pemeran tambahan dalam serial kedua bersama Mas Arya dan Inggit. Bolehkah?


Penulis: Andy Arya Maulana Wijaya


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages