"Hari ini hari bae," begitu ujar mancuana (orang tua) dekat rumahku.
Karena dianggap hari baik, hari ini tiga tetanggaku sekaligus tauraka alias tunangan. Dengar kabar itu, senangku bukan main. Rasanya seperti dapat hadiah-hadiah dari kupon cabut-cabut waktu kecil.
Bagaimana tidak senang, prosesi tunangan di kampungku (Baubau) tidak hanya identik dengan pasang cincin. Tapi juga identik dengan 'Katange' dan 'Bakena Kau' atau yang saya artikan sendiri amplop tunangan.
Isi katange (kantung) biasanya kue-kue tradisional. Seperti cucur, onde-onde, baruasa, bolu, dan teman seletingnya. Sedangkan yang saya sebut amplop tunangan, yah sudah ditebak apa isinya: uang. Uang yang diselipkan di amplop bervariasi nominalnya. Ada sepuluh ribu, dua puluh ribu hingga seratus ribu. Nominal terakhir biasanya untuk pejabat kampung selevel lebe.
Saya sendiri lebih mengincar amplop tunangan daripada kantong yang bapak atau mamaku bawa pulang. Setiap mereka pulang dari acara tauraka, sudah saya tunggu di depan pintu. Prinsipku, tidak bisa masuk sebelum saya genggam amplopnya tauraka, hahahaha.
Sebenarnya, tanpa perlu dipalak atau diminta pun, para orang tua tetap memberikan amplop itu pada anak-anaknya. Apalagi anak gadis yang belum menikah. Konon, uang amlop tauraka itu bisa mempermudah datangnya jodoh bagi anak gadis atau bujang yang belum menikah. Syarat dan ketentuan berlaku: tidak boleh beli makanan atau sesuatu yang cepat habis.
Untuk anak gadis, biasanya disuruh beli bedak, hand body atau lisptik. Katanya, supaya auranya keluar. Kalau untuk bujangan, biasanya disuruh beli baju kaos atau parfum, tujuannya sama dengan anak gadis.
Saya tidak tahu itu benar atau tidak. Faktanya tidak saya temukan dalam sains. Tapi dua tahun lalu, teman saya langsung dilamar ketika uang tauraka yang dikasih mamanya dia belikan bedak. Wow, mujarab sekali. Tapi saya tidak begitu percaya. Apalagi melihat kondisi wa Ambe, tetangga saya. Hingga saat ini, hilal jodohnya belum juga kelihatan. Padahal rajin sekali dia beli bedak dari uang amplop tauraka.
Apalagi hari ini, Wa Ambe galau berat karena beranda Facebooknya berisi foto tetangga yang senyum memperlihtkan cincinnya. Ditambah lagi siaran langsung ibu-ibu yang mempertontonkan isi talang dan mancuana samping rumahnya yang tidak henti bertanya, "Kapan ko tauraka, Ambe?"
Makin mi bikin Wa Ambe kamburu-mburu–cemberut.
"Berapa ko dapat uang tauraka?" tanya wa Ambe saat kami sedang menikmati isi katange tauraka.
"120 ribu, Ambe. Lumayan toh?"
"Jadi ko mau beli lagi bedak?"
Saya mengangguk.
"Iihh, kalo ko berharap supaya cepat dapat jodoh jangan mi kasian. Jodoh itu takdirnya Allah kawasana opu. Mending traktir saya."
Mantap sekali saran dari Wa Ambe ini.
Penulis: Ryn
Sumber foto: koeleather.com
Hahaha,mantaaap laah👍👍
BalasHapus