Badut, Musik Religi, dan Empati yang Bersatu



Sore itu langit Yogya seperti disenteri lampu yang bercahaya orange. Warna orange yang menyerupai lampu pijar rambu lalu lintas, mekar merekah di awan perak yang berkumpul tebal menutupi langit Yogya. Bias cahayanya menolak ditutupi. Saya yang baru saja balik dari rumah seorang teman yang berada di Bumijo, terjebak macet di lampu merah. Walau memang lampunya sudah beri tanda buat jalan meninggalkan tempat, tapi saking padatnya, semua berjalan sangat lambat dan akhirnya timer lampu rambu lalu lintaslah yang menang. Menahan kami agar lebih lama menunggu lagi.  


Sore-sore seperti ini jalan AM Sangaji agak padat memang. Ada yang menuju ke-tugu Yogya buat bersantai ria, ngebolang sambil bergandeng tangan dan mungkin ada yang kencan di kedai kopi menanti malam. Dan timer terus bergerak. Lampunya masih merah. Di depan ada seseorang yang tengah menjajakan jasanya. Dengan menggunakan kostum badut, berkalungkan sound kecil berwarna hitam. Sambil bergoyang-goyang ia menuju ke tempat kami berhenti. "Weh pasti lagu koplo nih, orangnya asik goyang seperti itu," kataku sama teman yang bertugas menyetir motor sambil memukul pundaknya dan dia hanya balas tertawa (pengen kuajak ghibah di atas motor tapi tidak berjalan lancar). 


Si badut berkalung sound itu semakin mendekat. Hanya dua mobil dan satu motor yang menghalau, maka sampailah dia di tempat kami. Tapi koh ada yang aneh. Ternyata dugaanku salah, musik yang dimainkan si badut bukan musik dangdut koplo, atau musik Dj yang membuat kepala ikut goyang—goyang. Atau lagu dengan nuansa keindia-indiaan gitu yang biasa diputar pengamen lampu merah. Ini sih lagu religi, kalau tidak salah lagunya Opick. Yah kalau tidak salah. 


Pilihan lagu yang unik. Mungkin buat magnet penarik empati pengendara sepertinya yah. Karena, misal musik dangdut atau sejenis yang membangkitkan energi, sepertinya sudah biasa sih. Tapi kalau lagu yang menjadikan simbol pengingat sama yang Esa kan jadi lain lagi ceritanya. Menurutku si badut cerdas sih. Menggunakan musik religi sebagai magnet. Memaksa pendengar untuk mengingat. Tapi apakah mungkin sikap keagamaan pengendara akan bangkit. Sepertinya sih banyak yang diam dan mengangkat tangan tanpa membayar. Si badut hanya mengangguk berpindah dari satu mobil ke mobil lain dan begitu seterusnya. 


Sampailah si badut di motor kami. Sejak awal, saya memikirkan cara bagaimana menolak tapi naluriku tetap tak menggubris dan menolak untuk tak memberi. Tapi bayangkan, uang di saku tinggalah dua ribu perak. Perut juga sudah meringisi minta tumbal. Tapi kasihan juga si badut ditolak terus sama yang lain. Kumasukkan tangan ke dalam saku, dengan penuh harap semoga si badut di belakang nanti banyak yang kasih. Sambil memasukkan uang kertas di dalam ember berwarna kuning yang berisi enam keping uang recehan, dengan musik yang masih terus mengalun, si badut mengangguk dan berlalu melangkah ke belakang. 


Di langit sore itu, harmoni indah membumbung tinggi melantunkan syair-syair asma Allah yang mengelus lembut nurani. 


Demikian cerita saya, mahasiswa Buton di perantauan. Selalu haus mencari ilmu dan inspirasi.


Yogyakarta, 18 February 2021

Di kamar kos yang kusam.


Rinawati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages