![]() |
| Nenek Wa Minu dan kue Pucu buatannya |
Pagi ini (18/02) menu sarapanku agak berbeda. Kalau biasanya selalu dipenuhi dengan kue dan makanan mainstream yang sudah go internasional, seperti donat, kue lapis, nasi kuning, atau nasi goreng, kali ini saya ditawari oleh sepupu saya untuk mencoba satu panganan tradisional Buton berbentuk bulat pipih. Sepintas mirip kue Apam. Tapi berwarna putih karena terbuat dari kaopi (singkong parut yang dipadatkan). Ditambah taburan kelapa di tiap sisinya. Pucu atau kue pucu, begitu orang menyebutnya.
Saya sudah sering mendengar namanya. Dan terkadang saya
juga melihat panganan ini bersanding dengan kue-kue lainnya yang dijajakan di beberapa
pedagang kue di pasar Wameo Kota Baubau. Tapi terus terang saya belum pernah mencobanya. Di benak saya, kue ini mungkin rasanya mirip dengan kasoami karena kesamaan
bahan dasar tadi yaitu kaopi. Hanya bentuknya saja yang berbeda. Bagi saya
kurang cocoklah kalau dimakan pada pagi hari. Tapi setelah sarapan tadi, anggapan
saya pun berubah.
Secara sepintas kue ini memang rasanya mirip dengan kasoami
dengan tambahan kelapa. Tapi teksturnya sangat berbeda. Kue ini lebih lembut
dan sangat lumer di lidah. Kelapanya pun begitu terasa. Saya membayangkan bagaimana
jadinya jika kue ini dikomersilkan dengan berbagai macam pilihan rasa yang
ditawarkan. Terlepas dari rasa original yang sudah sering disajikan. Pasti
sungguh menggugah selera.
Sayangnya, terlepas dari cita rasa panganan tersebut yang
khas, ternyata menyimpan cerita yang begitu memprihatinkan. Di mana pembuat panganan
tersebut tinggal seorang saja di tanah Buton ini dan sudah berusia senja: 75 tahun. Bagaimana
jadinya jika nenek tersebut sudah tiada? Siapa lagi yang akan melestarikan kue Pucu?
***
Selama sarapan tadi, saya sedikit berbincang dengan sepupu saya mengenai siapa sosok di balik kue Pucu yang telah kami santap. Dari proses bincang singkat itu, saya temukan fakta di atas dan beberapa fakta lain yang membuat hati saya tergugah dan penasaran. Saya lalu meminta dia untuk mengantar saya ke kediaman sang nenek untuk mencari tahu lebih banyak tentang sosok pembuat panganan legendaris tersebut.
Singkat cerita, sampailah kami di rumah beliau. Tampak sebuah rumah semi-permanen dengan cat
hijau-kuning bergaris vertikal pada dinding papan, dan sedikit kombinasi warna
putih pada tembok di bawahnya. Jika dilihat lebih teliti, hanya warna catnya
saja yang tampak baru, tapi
bangunan itu sebenarnya jauh dari kata baru.
![]() |
| Rumah sang nenek. Makanya bikin laris kuenya, biar cepat beliau naik haji |
Kami langsung menuju pintu dapur. Tempat di mana kami lebih mudah untuk menemui nenek tersebut. Kedatangan kami pun bersambut dengan sosok beliau yang membalas salam kami, sementara jari-jemari beliau tengah asik melumat kaopi untuk dihaluskan.
Kami mulai berbincang ringan dan hangat mengenai Pucu dan
profesi beliau sebagai pembuatnya. Beliau tampak antusias dengan
pertanyaan-pertanyaan dari kami dan begitu bersemangat bercerita menjawabnya.
Menurut tutur beliau, profesi ini bukan hanya sebagai penyambung hidup, tapi juga sudah seperti hobi yang memiliki
kenikmatan tersendiri dalam melakukannya.
Profesi yang sudah ditekuninya puluhan tahun semenjak anak
perempuan beliau satu-satunya duduk di bangku sekolah dasar. Putrinya
tersebut sekarang sudah berkeluarga. Mungkin usianya sekitar 40 tahunan
lebih.
![]() |
| Sang nenek pembuat Pucu. Nenek legend ini, Bosku! |
Kami hanya bisa mengukur rentang waktu beliau menjalani profesi ini dari perbandingan usia putrinya tadi. Karena faktor usia yang membuat ingatan dan pendengaran beliau tidak setanggap dulu lagi. Tak elok rasanya kami memaksa beliau mengingat-ingat waktu tepatnya.
Selama itu juga, suka
duka telah banyak beliau lalui. Mulai dari pucu
buatannya dipesan oleh Fildan Rahayu untuk
acara akikahan anak keduanya tempo
hari. Juga pernah dipesan oleh
seorang Kowad (Korps Wanita Angkatan Darat)
atau seorang Tentara Perempuan dari
Jakarta sebanyak 500 buah yang dikirim melalui pesawat terbang. Sampai pada pengalaman tidak mengenakkan, dari
seorang perempuan yang datang dengan
janji untuk membawanya ke Kota Kendari. Tapi ternyata itu urung terjadi. Malah
perempuan tersebut berangkat ke Kendari dengan
membawa periuknya saja, yang biasa digunakan untuk
menanak pucu. Pada akhirnya beliau
harus membeli periuk baru untuk menyambung hidup.
“Saya kira dia mau ajak saya ke Kendari, padahal dia hanya
datang foto-foto lalu pinjam periukku. Kalau saya mau tunggu-tunggu itu
perempuan, saya tidak makan. Sedangkan hanya dari sini penghasilanku, suamiku
sudah meninggal mi, sedangkan anak saya sudah tinggal dengan keluarganya,” ucap beliau seolah mengadu.
Dari kejadian yang terakhir itu, alhasil beliau seolah
tertutup dari orang-orang yang mengatasnamakan aktivis kuliner tradisional, atau apalah namanya.
Menurut beliau, dulunya makanan ini banyak dijajakan orang di Wameo,
sewaktu beliau masih belia. Bersaing dengan kue-kue tradisional lainnya,
seperti tuli-tuli, epu-epu, sanggara,
dan lain-lain. Tapi seiring waktu berganti,
zaman pun mengikuti. Generasi baru yang terlahir tidak begitu tertarik dengan panganan
ini. Alih-alih mau mencicipi, bahkan banyak yang tidak mengetahui rupa dari panganan
ini.
“Tadinya pucu lebih sering
jadi pengganti nasi, kayak kasoami dan disantap bersama semua jenis masakan olahan
ikan. Terutama ikan pindang atau parende,” kata beliau.
Pikir saya pun demikian. Kayaknya pucu lebih baik dalam hal ini daripada kasoami. Karena bentuknya yang lebih
kecil dan rasa yang lebih lembut, jadi kita tidak perlu cemas jika nanti ada yang
tersisa. Harusnya pucu bisa berada di puncak
tatanan makanan tradisional dan bersanding dengan kasoami yang sudah lebih populer.
Memang proses pembuatan
pucu tidak semudah kasoami. Ada beberapa step yang lebih membutuhkan skill
daripada tenaga. Proses pengolahan kaopi yang akan digunakan pun bisa memakan waktu
seharian. Mulai dari dihancurkan, dijemur, dan ditutup dengan kain. Jadi dalam membuat
pucu, kesabaran juga sangat diperlukan.
Dari beberapa orang yang
mengenal pucu buatan si nenek, berpendapat bahwa pucu beliau memang yang paling enak
di seantero negeri. Banyak para orang tua, terutama yang dari Wameo pasti tahu cara
membuat pucu, tapi tidak ada yang bisa seenak pucu buatan si nenek.
Si nenek sebenarnya hanya
mendapatkan resep warisan olahan pucu dari orang tuanya, yang pada zamannya merupakan
pembuat pucu terbaik yang pernah ada. Beliau
sempat menunjukkan tempurung cetakan pucu beliau yang usianya hampir sama dengan
beliau, atau bahkan lebih. Karena sesuai memori beliau, cetakan itu sudah ada sejak
beliau masih kecil. Cetakan yang sama dipakai ibu dari si nenek untuk membuat pucu.
Sudah kebayang Bosku, bagaimana legend-nya makanan ini?
![]() |
| Cetakan Pucu, peninggalan mamaknya itu nenek. |
Tapi kita semua harus merasa risau. Karena setelah beliau, mungkin tidak akan ada lagi orang yang menjajakan makanan ini dengan kualitas otentik.
Beliau adalah orang terakhir
di planet Bumi ini yang masih membuat pucu. Coba saja kalian cari sekeliling kota ini,
tidak akan kalian jumpai pembuat pucu selain beliau. Dan di umur yang sangat renta, san nenek tidak memiliki harapan apapun selain pucu tetap diminati banyak orang
hingga nanti.
Di penghujung koja-koja (ngobrol) kami yang singkat itu, mata beliau sempat berkaca-kaca ketika saya bertanya: masih ada atau tidak orang yang ingin melanjutkan usaha ini, minimal tanya-tanya resepnya?
Sang nenek sempat terdiam beberapa saat, kemudian dengan mata yang tampak
mulai membasah, beliau menjawab “Tidak”.
Setelah itu, tidak ada kata
lain selain kata "tidak" yang terlontar dari lisan beliau, setiap kali kami mencoba mempertegas pertanyaan kami tadi. Membuat kami tidak ingin mengorek lebih jauh untuk masalah itu.
Jawaban itu sebenarnya
sudah menyadarkan saya, bahwa panganan ini mungkin sudah tidak bisa terselamatkan
lagi kelestariannya. Ujung usia pucu sudah mudah diterka dari raga si nenek yang
sudah menua. Siapa pun yang berada dalam lingkaran kehidupan si nenek, pasti berpikir
sama dengan saya.
Panganan tradisional lain,
sekarang ini begitu banyak pengolahnya mulai dari orang tua hingga anak muda. Mulai
dari di-remake hingga dikolaborasikan dengan panganan lainnya, yang menghadirkan cita
rasa yang beraneka ragam.
Tapi pucu sangat berbeda.
Pucu seolah berjalan sendiri bersama kehidupan si nenek. Menemani sang nenek untuk
menghabiskan tenaga beliau yang masih tampak begitu kuat. Hingga ujungnya nanti, pamit bersama meninggalkan kita semua. Di saat itu, mungkin kita hanya mengetahui
namanya tanpa mengetahui cita rasa dan kenikmatannya. Kemudian kita mulai sibuk
dengan siapa yang paling pertama menemukan jejak sejarahnya. Miris.
Saat kami berpamitan, si
nenek malah berterima kasih. Padahal harusnya saya yang melakukannya karena masih
diperlihatkan makanan leluhur oleh beliau. Tanpa sang nenek, mungkin generasi tidak
tahu diri seperti kami, tidak akan pernah mengenalnya.
Terima kasih, Nek. Dengan
adanya jejak digital ini, saya berharap akan ada suatu masa, di mana tidak saja Chef Juna atau Chef Rennata yang dikenal karena racikan tangannya. Tapi ada juga nenek ‘Wa Minu', pembuat kue Pucu, pahlawan kuliner di tanah Buton ini.
Penulis : Ade Nyong.




Iya sy jd tertarik, knp tdk posting resepnya sklian dih
BalasHapusTulisan ini hanya untuk mengangkat kisah hidup si nenek dengan kue pucunya.. Bukan buku resep kuliner... Jika ingin resepnya silah k rumah si nenek, biar lebih menghargai beliau,,,
HapusSy juga mw beljar bikin dank
BalasHapus